Why Are You So Different?

Pernah melihat teman atau orang yang kamu kenal berubah attitude-nya ketika berinternet? Mungkin jawabannya banyaaaaak haha. Ada yang berubah menjadi alim ketika berinternet, namun ada juga yang berubah liar dengan kata-kata jorok dan kasar.
Sebut saja namanya bunga. Keseharian gadis yang bekerja di salah satu bank di kota Kembang itu jauh dari kesan religius. Bahkan, tampilan sehari-sehari cewek berparas ayu itu sangat seksi. Ia juga terlibat kasus penggunaan dana kantor.
Bagi yang tidak mengenalnya di dunia nyata, akan tertipu dengan kemasan cewek ini di internet yang image-nya salihah. Bahkan, postingannya tidak jauh jauh dari Al Quran dan Hadist. Siapa yang nyangka kalau dalam realitanya ia tidak seperti yang diposting di internet.
Atau kamu pernah ketemu cowok yang picture-nya kece. Dan kamu yakin seyakin-yakinnya ia ganteng dan pintar. Karena bio-nya di facebook sangat meyakinkan. Begitu ketemu, kamu kecewa karena kenyataannya tidak seperti itu. Jika kamu langsung bisa move on masih bagus. Sayangnya, ada sebagian cewek yang susah move on, meski sudah tahu cowok yang dikenalnya via internet tidak sebaik imajinasinya. Bahkan, kita juga tahu ada banyak kasus penipuan dari modus kenalan dan pacaran dari social media.
Hal yang sulit adalah menebak karakter asli dari teman yang kita kenal secara online. Karena bisa saja karakter yang sebenarnya bukan seperti persepsi kita ketika berinteraksi secara online. Orang bisa berpura-pura baik, sopan ketika chatting. Karena ia tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara. Sebaliknya, orang juga bisa marah-marah, menggunakan kata-kata kasar, menghina orang lain dengan santainya karena merasa ia tidak dilihat langsung lawan bicaranya. Juga tidak ada sangsi secara langsung atas kata-kata kasarnya.
Makian atau hinaan yang terjadi pada orang dewasa menimbulkan perasaan sakit di hati korban. Apalagi jika makian itu terjadi pada diri remaja yang sedang mencari identitas diri. Makian atau hinaan secara online di kalangan remaja masuk kategori cyberbullying yakni bentuk flaming.
Ya, internet membuka ruang namanya disinhibited effect. Karena disinhibited effect ini merupakan salah satu karakter dunia maya. Maksudnya, ketika berinternet orang merasa bebas melakukan apa saja, mengucapkan apa saja, atau berperilaku berbeda dengan dirinya di dunia nyata karena minimnya sensor dari orang lain. Misalnya orang yang di dunia nyata yang berpikir dampak jika mengumpat, bisa jadi ketika mengumpat di ineternet dilakukan secara spontan karena merasa tidak ada dampak yang ditimbulkan. Atau seseorang yang akan berpikir seribu kali jika menghina seseorang di dunia nyata, bisa melakukannya ketika online. Karakter internet yang minim sensor, tidak memberikan sanksi sosial secara langsung atas perkataan dan perbuatan, memungkinkan membuat identitas palsu (anonimity), dan bisa menghindar atas konsekuensi dari komentar kita dengan meng-off-kan internet, membuka ruang bagi individu untuk berperilaku berbeda dengan keseharian.
So, internet memungkinkan satu individu mempunyai banyak karakter ketika online. Orang yang aslinya baik bisa berubah menjadi pribadi dengan kata-kata kasar atau liar. Internet hanyalah modalitas buah dari kemajuan peradaban manusia. Ia tidak mempunyai daya kontrol untuk mengerem tingkah laku manusia yang mendadak abnormal ketika berinteraksi secara daring. Konsistensi tetap menjadi pribadi yang sama ketika berinteraksi secara online dan offline ada pada individu. Disinilah self control dari individu menentukan. “One’s greatest challenge is to control oneslef.” –Kazi Shams.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s