Cyberbullying: Realitas Sosial di Era Digital?

Jika kita mendengar kata cyber, maka akan terasosiasi dengan jagad online. So, cyberbullying merupakan bullying yang terjadi melalui media internet dan ponsel. Apakah cyberbullying ini umum terjadi di negara-negara maju yang penduduknya akrab dengan internet dan ponsel? Nope! Dahulu, sekitar awal tahun 2000-an, menurut riset yang dilakukan Smith, cyberbullying memang dimonopoli negara-negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia.

Seiring meningkatnya penggunaan handphone di kalangan remaja bukan hanya di Amerika, maka cyberbullying pun mulai merambah di negara Asia seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Nggak percaya? Yuk kita buktikan.

Lembaga riset global Ispsos bekerjasama dengan Reuters menyelenggarakan riset cyberbullying yang dirilis Januari 2012 dengan melibatkan responden di 24 negara. Sebanyak 74% responden dari Indonesia menunjuk Facebook sebagai media tempat terjadinya cyberbullying, 44% menyebut website lain. Cyberbullying melalui surat elektronik atau e-mail merupakan kasus yang dianggap paling jarang terjadi di Indonesia (SalingSilang.com, 18 Januari 2012).

Cyberbullying di Indonesia berdasarkan survey Ipsos cukup tinggi. Satu dari delapan anak di Indonesia pernah mengalami penghinaan dan ancaman di dunia maya. Sekitar 55 persen orang tua di Indonesia yang menjadi responden menyatakan mereka mengetahui seorang anak mengalami cyberbullying (Kompas, 23 Januari 2012).

Di Malaysia sejak Oktober 2007 hingga Januari 2010 terdapat 60 kasus cyberbullying. Sedangkan di Singapura pada kurun waktu yang hampir sama terdapat 80 kasus cyberbullying (Reader Digest Asia, 15 Januari 2010). Tahun 2012 Microsoft mengadakan riset yang melibatkan 3 .000 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 1.900 siswa Sekolah Dasar (SD). Hasilnya prevalensi cyberbullying di Singapura sebesar 58 persen atau terbesar kedua di dunia.

Berdasarkan Wired Safety kasus cyberbullying di Singapura meningkat drastis pada tahun 2013. Meskipun posisi Singapura tetap di urutan kedua di dunia di bawah Amerika Serikat (nobullying.com). Tahun 2014 satu dari empat siswa SMP di Singapura dilaporkan menjadi korban cyberbullying oleh teman sebaya (peer).
Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2006 prevalensi cyberbullying di Indonesia 25 juta. Korban cyberbullying sebagian dihina, diabaikan, digosipkan di dunia maya. Beradasarkan penelitian BPS ini cyberbullying di Indonesia paling sering terjadi melalui modalitas jejaring sosial seperti facebook. Sebanyak 74% responden menyatakan facebook sebagai modalitas cyberbullying sedangkan 44% menyatakan media website sebagai modalitas cyberbullying. Sebagian besar responden menyatakan cyberbullying terjadi melalui ponsel.

Pada tahun 2011 prevalensi cyberbullying di Indonesia cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan hasil penelitian yang diselenggarakan oleh lembaga Ipsos. Dari riset Ipsos diketahui bahwa satu dari delapan anak di Indonesia pernah mengalami penghinaan dan ancaman di dunia maya. Sekitar 55 persen orang tua di Indonesia yang menjadi responden menyatakan mereka mengetahui seorang anak mengalami cyberbullying (Kompas, 23 Januari 2012).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Unicef pada tahun 2011 hingga 2013, sebagian besar remaja di Indonesia telah menjadi korban cyberbullying. Studi melibatkan 400 anak dan remaja di 11 provinsi dengan rentang usia 10 hingga 19 tahun.
Hasil dari studi Kominfo dan Unicef yang dirilis Februari 2014 tersebut adalah 80 persen remaja mengunakan internet. Sebanyak 69 persen mengakses internet melalui komputer 34 persen menggunakan laptop dan 52 persen menggunakan smart phone. Menurut riset Roy Morgan, kepemilikan smartphone di Indonesia meningkat dua kali lipat pada tahun 2012 dan 2013 menjadi 24 persen.

Dari penelitian Keminfo dan Unicef juga terungkap bahwa sembilan dari sepuluh siswa atau 89 persen responden berkomunikasi secara online dengan teman-teman mereka, 52 persen berkomunikasi online dengan keluarga, dan 35 persen berkomunikasi secara online dengan guru mereka. Sebanyak 13 persen responden mengaku menjadi korban cyberbullying dengan bentuk hinaan dan ancaman.

Tingginya angka cyberbullying di Indonesia dipengaruhi oleh penggunaan internet yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Kementerian Informasi Komunikasi dan Informatika jumlah penguna internet di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persen menggunakan internet untuk mengakses situs jejaring sosial. Jejaring sosial yang diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menjadi pengguna Facebook nomor 4 terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, dan India. Indonesia juga menempati peringkat 5 besar pengguna Twitter di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, Jepang, dan Inggris. Tingginya pengguna jejaring sosial di Indonesia menjadi jawaban modalitas cyberbullying di tanah air sebagian besar melalui jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

Nah, dengan tingginya angka prevalensi cyberbullying di tanah air, masih menganggap cyberbullying sesuatu yang asing, sesuatu yang jauh dari realitas sosial kita? Tidak! Cyberbullying telah ada dalam realitas sosial kita. Tugas kita adalah melakukan langkah preventif dan kuratif terkait dengan fenomena sosial ini. Tentunya langkah-langkah itu bisa dilakukan melalui riset di perguruan tinggi baik menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berfungsi sebagai pencegahan, dan metode kualitatif yang bertujuan untuk melakukan koreksi atas fenomena sosial ini dan mengkonstruksinya menjadi keadaan yang lebih baik.

Photo taken from google.com

Photo taken from google.com

mereka mengetahui seorang anak mengalami cyberbullying (Kompas, 23 Januari 2012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s