Beijing Trip I:Summer Palace, Dr Tea, Olympic Park Stadion

Udara Beijing akhir April 2012 terasa sejuk dan kering pada Rabu siang (23/4). Angin yang berembus mengusap kulit terasa dingin. Begitu yang kurasakan ketika menjejakkan kaki di area sekitar bandara Beijing, Cina. Alhamdulillah setelah sembilan jam dalam badan pesawat Air China, akhirnya sampai juga di Beijing.

Seharusnya pesawatku sampai di Beijing airport sekitar jam 09.00 pagi waktu setempat. Tapi, karena sempat delay hingga tiga jam, ya akhirnya jam 12.00 siang baru sampai Beijing. Enam jam bertolak dari Soekarno Hatta Airport Cengkareng Jakarta, pesawat transit di Xiamen Airport. Tiga jam kemudian tiba di Bandara Beijing. Setelah melewati proses body checking, mengambil travelling bag, melewati bagian imigrasi, aku akhirnya keluar bandara.

Aku menggeret koper oranyeku ke dalam bagasi bus yang akan membawaku dan rombongan ke sebuah restoran berjarak 18 kilo. Eh, ada yang aneh. Bagasi mobil ada di sebelah kanan. Dan sopirnya, ada di sebelah kiri. Hal yang tak biasa bagi orang Indonesia. Setiba di jalanan, kemacetan panjang menghadang. Padahal masih siang, baru pukul 02.00, belum masuk jam pulang kantor. Untuk urusan macet, ternyata Beijing tidak jauh beda dengan Jakarta. Pikirku. Ternyata dugaanku benar.

Menurut Stephen, pada jam-jam tertentu sebagian ruas jalan Beijing didera kemacetan. Untunglah sepanjang jalan mataku dimanjakan dengan tumbuhan yang asing bagiku. Pohon dengan pucuk daun keputihan seperti kapuk bernama yunse berjajar rapi di sisi jalan. Di bawahnya tetumbuhan berbentuk segitiga mirip cemara kate atau cemara mini bergerombol membentuk hamparan hijau bak permadani. Cemara mini itu berseling dengan rumpun bunga warna warni.

Tetumbuhan yang sebagian besar terasa baru itu terus menarik perhatianku. Meski, sesekali pandanganku beralih kepada penjelasan Stephen. “Perjalanan ke rumah makan sekitar dua jam karena macet,” ujar Stephen dengan mikrofon.

Restoran Monggo Mas

Benar kata Stephen. Kurang lebih dua jam di perjalanan, akhirnya aku sampai di sebuah rumah makan. Daheng Restaurant namanya. Untunglah restoran ini menggunakan huruf latin. So, aku bisa tahu namanya. Pasalnya, setelah lunch pertama ini, aku tak tahu nama-nama resto yang kusinggahi. Bagaimana tidak, semua rumah makan menggunakan Huruf China.

Saat dinner, aku menanyakan nama rumah makan pada Stephen. Kata dia, nama resto yang memutar lagu Koes Plus saat kami masuk itu, Monggo Mas. Mendengar penjelasan Stephen yang memiliki nama asli Hansu itu, sontak aku tertawa. Entah dia hanya bercanda atau memang itu nama restorannya, saat itu aku memilih percaya saja. Inilah konsekuensi orang buta huruf. Dibohongi juga tidak tahu. Karena, kalaupun tidak percaya, aku tidak bisa verifikasi. Wong pelayannya tidak bisa berbahasa Inggris. Apalagi Bahasa Indonesia. Et dah.

Aku dan rombongan masuk ke lantai dua. Karena jumlah rombongan lumayan, kami dibagi dalam dua meja bundar dengan tatakan kaca yang bisa diputar. Di atasnya ada nasi putih hangat, tumis pakchoy, ayam goreng crunchy, sawi, fillet ikan, semangka diiris sangat tipis dengan ukuran sama, dan masih banyak varian makanan lain yang belum familiar.

Sebelum kegiatan makan berlangsung, Stephen menjelaskan bahwa makanan yang dihidangkan halal. “Makanan di sini halal,” ujarnya. Pertama kali mencicipi makanan China, tidak ada sesuatu yang aneh. Rasanya agak tawar, karena hilangnya pedas. Salah seorang temanku minta sambal cabai. Untunglah pihak restoran punya cadangan sambal cabai. Jadilah makan siang pertama di China itu lengkap dengan sambal. Meski taste-nya kurang pas, tapi sambal lumayan menyempurnakannya. Ashhhh….pedasnya.

Dari restoran Daheng, aku bertolak menuju Summer Palace yang berada di tepi barat Summer Palace atau sekitar 12 km dari central Beijing. Summer Palace merupakan museum taman tradisional Cina yang memadukan batu, pepohonan, pavilion, danau, kolam, dan pedestrian. Rangkaian dari kombinasi itu menciptakan sebuah tempat yang indah dan romantis.

Summer palace mulai dibangun pada tahun 1750 pada masa Dinasti Mansuriah. Namun, taman yang ada di Summer Palace ada sejak Dinasti Jin (1115-1234). Proses pembangunan istana memakan waktu 14 tahun.

Istana dengan beberapa pulau elok, jembatan, dan danau itu dirusak saat invasi Perancis ke China. Sekitar tahun 1860. Kemudian dibangun kembali oleh ibu suri. Sehingga Summer Palace yang ada saat ini merupakan istana yang dibangun kembali pada tahun 1903. Karena Summer Palace yang asli atau old summer palace (YuanMingYuan) telah dirusak  oleh pasukan Inggris Perancis.

Sebelum sampai istana yang hanya dihuni raja saat musim panas—makanya disebut summer palace—Stephen menjelaskan kepada anggota rombongan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. “Nanti di tempat wisata banyak pedagang. Kalau mau beli souvenir, lebih baik jangan di sana.”

Ia beralasan, ada pedagang-pedagang nakal di lokasi Summer Palace. Misalnya uang kembalian berupa uang palsu. Bahkan, ada wisatawan yang mendapat uang kembali berupa rubel, mata uang Rusia. “Kalau mau beli, kasih uang pas, tidak memerlukan kembalian.”

Begitu memasuki kawasan Summer Palace, kami disambut oleh kapuk dari pohon yunse dan angin yang berhembus sangat kencang. Sehingga, wosatawan dianjurkan mengenakan jaket ketika berjalan-jalan ke Summer Palace. Masuk ke dalam, kami menjumpai patung kerbau berada di pinggiran danau dengan beberapa pulau dan jembatan di sebelah kiri berusia 300 tahun. Konon patung kerbau itu untuk menghalau banjir. Kalau memang sakti menghalau banjir, sepertinya ide patung kerbau bisa digunakan untuk Kota Jakarta yang langganan banjir hehe. Aya aya wae.

Puas jalan-jalan di Summer Palace, aku menuju ke pabrik pembuatan teh yakni Dr. Tea yang berlokasi di Jalan Min Zu Yuan Chao Yang District. Aroma the menguar begitu kita memasuki bangunan berarsitektur China itu. Beragam tempayan, guci, dan gerabah peralatan meminum teh dipajang. Saat melintas, ada rombongan wisatawan lain berkumpul dalam ruangan menerima penjelasan tentang beragam teh. Hal sama juga kami lakukan. Masu dalam ruangan dengan meja kotak kayu di tengahnya. Setelah menunggu sekitar 20 menit, dua orang perempuan muda mengenakan baju cheongsam masuk ke dalam ruangan.

Keduanya memperagakan cara meracik teh beragam jenis. Uniknya, keduanya menggunakan Bahasa Mandarin. Mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Sehingga percakapan kadang menggunakan bahasa tarzan hehe. Intinya, setelah selesai meracik, kami akan mendapat minuman teh yang dituangkan ke dalam cangkir supermini.

Dari brosur hijau yang dibagikan, aku tahu ada enam jenis teh yang diracik. Yakni white tea, golden tea atau slimming tea, oriental beauty atau the king of oolong tea, jasmine tea, litchi tea, dan tian qi flower. Keenam jenis the ini memiliki khasiat berlainan.

White tea misalnya. Ampuh menetralisir efek alcohol dan nikotin, menyembuhkan flu dan radang tenggorokan. Golden tea bisa mengatur tekanan darah, menurunkan kolesterol dan berat badan. Slimming tea ini juga bagus untuk penderita insomnia.

The king of oolong tea bagus untuk sirkulasi darah dan kehalusan kulit, anemia, mengobati sakit perut, dll. Jasmine tea diklaim  bisa meningkatkan penglihatan, mengurangi sakit kepala, dll. Litchi tea atau black tea bagus untuk pencernaan. Tian Qi Flower dapat mengembalikan energi, melindungi hati, meningkatkan imunitas, bagus rematik, dan artirtis.

Di luar enam jenis teh yang ada di brosur, ada dua teh yang dikenalkan pegawai Dr Tea. Yakni fruit tea dan the berusia ratusan tahun. Fruit tea rasanya manis. Rasa manis berasal dari buah-buahan kering di dalam the yang bisa dimakan. Dari semua teh yang diracik, fruit tea menjadi favoritku. Saat menjelaskan teh berusia ratusan tahun, pegawai hanya menunjukkan contoh the dan gambar pohon teh. Ternyata, harga pohon teh berusia ratusan tahun itu tidak main-main. Bisa mencapai ratusan tahun bo’!

Selesai demo teh, saatnya acara belanja dimulai. Maka, seperti lelang, tiap orang memesan teh yang akan dibeli. Aku membeli fruit tea dengan bandrol harga 75 yuan atau sekitar Rp 135 ribuan. Bagi pembeli yang membeli dalam partai besar, mendapat hadiah pee-pee boy yakni patung anak kecil yang bisa pipis jika ditaruh dalam air panas selama dua menit.

Puas memborong teh, kami bergerak merapat ke Olympic Park Stadion. Stadion yang digunakan pada Oliempiade Agustus 2008 itu kini mangkrak. Pemerintah Cina menggunakan stadion berbentuk sangkar burung atau bird nest itu sebagai obyek wisata. Sayangnya kami sampai di stadion itu malam hari. Sehingga bangunan aslinya dengan struktur baja yang melintang-lintang tidak terlihat.

Namun, kerlip lampu yang membentuk body sang sangkar burung juga tak kalah indahnya. Cahaya lampu mampu mewakili bentuk bangunan bird nest. Udara terasa sangat dingin. Padahal, aku sudah mengenakan jaket dan syal. Tetap saja kulitku menggigil. Brrrrrr.

Di sini kami hanya foto-foto sebentar. Puas mengambil gambar bird nest dan menikmati dingin yang mencubit kulit, kami bergerak mendekati restoran yang memutar lagi Koes Plus saat kami memasuki restoran. Ketika kami masih di luar rumah makan, ada beberapa pedagang souvenir yang menawarkan dagangannya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Begitu duduk dalam formasi lingkaran, serombongan wisatawan lain dari Indonesia masuk. Ah, pantas saja pedagang souvenir menawarkan dagangannya menggunakan Bahasa Indonesia. Ternyata pengunjung restoran ini sebagian berasal dari Indonesia. Oalahhhh…

Menu yang disajikan di restoran bernama Monggo Mas (nggak yakin dengan nama ini), hampir sama dengan hidangan Daheng Restaurant. Nasi lengkap dengan sayur, lauk pauk, buah dan cemilan.

Kenyang dengan sajian di restoran “Monggo Mas” kami menuju Taly Plaza Hotel yang berada di Dancheng Road. Lucunya, nama hotel yang kami kunjungi tidak sama dengan nama di tour reef yang tercatat tian li hotel. Alhasil, ketika browsing di internet, tidak membuahkan hasil. Capek dech….

Secara bangunan, Taly Hotel terbilang lumayan dengan nuansa klasik. Tapi untuk urusan jelajah informasi, hehe. Selama tiga hari di sana, aku seperti terkurung di sebuah dunia antah berantah. Bagaimana tidak. Koneksi internet tidak bisa. Saluran televisi sebagai satu-satunya hiburan semuanya berita berbahasa China. Hanya satu TV berbahasa Inggris CCTV news chanel 4. Hwadoooooh. Kontras ya dengan Indonesia yang banjir bandang hiburan tapi acaranya tidak mendidik seperti sinetron yang kebanyakan hanya memamerkan kekayaan dan kebencian.

Meski tidak mengerti bahasanya, sedikit banyak aku tahu melalui bahasa gambar hehehe. Tapi aku salut dengan isi tayangan televisi di China yang kaya dengan sejarah dan nilai-nilai patriotism. Seseuatu yang jarang dijumpai pada media elektronik di tanah air. Hal itu wajar karena di negeri tirai bambu ini, seluruh saluran televisi dikontrol pemerintah cuy.

Sebelum mengakhiri hari pertama dengan istirahat di kasur yang sangat empuk mirip papan hahaha, aku berjalan-jalan di sekitar hotel. Jam baru menunjuk angka 9. Belum terlalu malam sebenarnya. Tapi, suasana jalan sudah senyap. Banyak toko yang sudah tutup. Kok Beijing sepi ya? Tanyaku membatin yang akhirnya kulontarkan juga.

Setelah berjalan ke sana sini tanpa tujuan, akhirnya aku mampir ke toko kelontong menjual beragam makanan kemasan. Lagi-lagi aku harus menggunakan bahasa tarzan dibantu gerakan tangan. Tapi ada satu temanku yang ‘hebat’. Ia bertanya kepada pemilik toko dengan bahasa asal mirip mandarin. Ajaib. Pemiliki toko itu menjawab pertanyaan temanku. Aku tertawa ngakak. Satu hal lagi, karena buta huruf, aku an teman-temanku tidak tahu tulisan tanggal kadaluwarsa. Alhasil, raut khawatir terlihat jelas saat temanku melahap es krim yang tertera tahun 2011 di bungkusnya.

Ternyata, setelah tanya sana sini, tahun 2011 merupakan tahun pembuatan. Temanku mengaku lega setelah sebelumnya was-was memakan es krim lokal. Begitulah sepenggal cerita perjalananku hari pertama di bumi Zang Zhi Yi ini. Tunggu kelanjutannya yaaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s