Bertemu Andrea Hirata di “Amerika”

Bertemu Andrea Hirata di Amerika

“Menembus Sastra Dunia”

Sekitar jam 3 sore aku menjejakkan di ruang bercahaya biru yang terletak di pojok Pacific Place. Setelah melalui proses berkali-kali cecking, finally aku bisa gabung dengan peserta lain yang sudah duduk manis menanti sharing dari penulis beken Andrea Hirata yang Sabtu sore (31/3) itu akan membawakan tema Penetrating World Literature di atamerica.

Peserta duduk di lantai yang difungsikan sebagai tempat duduk dengan posisi berundak ke atas seperti di tribun. Sementara narasumber Andrea Hirata berada di stage yang posisinya sama dengan lantai gedung alias di level terendah. Pengaturan tata lampu yang elegan, membuat suasana di dalam ruangan terasa nyaman, tidak terlalu terang atau temaram.

Andrea Hirata muncul dengan kemeja lengan panjang polos dan celana jeans biru. Dengan gaya santai dan ucapan Andrea yang kerap memancing tawa, workshop sore itu berlangsung terasa crunchy haha.

“Kalau hanya ngomongin novel bosen ya? Bagaimana kalau kita nyanyi dulu saja?” kata Andrea Hirata. Ia kemudian memanggil Mida untuk menyanyikan book song karya Andrea Hirata.

“Di Eropa penulis berhubungan dengan agen. Kalau di Indonesia penulis berhubungan dengan penerbit,” kata Andrea Hirata membuka workshop. Ia juga menjelaskan perbedaan karakteristik pembaca di Amerika dan Eropa dengan di Indonesia. Pembaca di Indonesia menyukai cerita yang memiliki visualisasi kuat. Karena era membaca belum begitu membudaya di masyarakat Indonesia langsung diganti dengan budaya menonton.

“Penulis harus menggambarkan peta, kanan kiri depan belakang. Tapi hal seperti ini tidak penting bagi pembaca di Amerika dan Eropa, karena mereka sudah pintar.”Sehingga, kata Andrea, membangun imajinasi sebuah cerita di tanah air harus detail.

Andrea kemudian berbagi cerita ketika dia mendapat kesempatan belajar menulis di Iowa University. Di sana alumni Sorborne University Paris ini bertemu dengan 37 penulis dunia. Ia mengaku tidak percaya diri tiap ditanya siapa penerbit bukunya. “Yang lain itu penerbitnya top. Saya bilang Bentang Pustaka,” kata Andrea seperti berbisik yang diiringi tawa peserta.

Sejak itu Andrea bermimpi one day karyanya bisa diterbitkan publisher ternama di Amerika. And his dream comes true. “Lima bulan lalu saya mendapat the best publisher, FSG penerbit dari Amerika. Sekarang kalau ketemu penulis dunia, jalan saya tidak lagi menunduk, tetapi tegak,” ujar Andrea memperagakan berjalan tertunduk kemudian tegak yang lagi-lagi diiringi riuh tawa peserta workshop.

Menurut penulis novel tetralogi Laskar Pelangi ini, menerbitkan buku di luar negeri itu gampang. “Yang penting siapa penerbitnya. Banyak charity yang mau menerbitkan buku. Tapi bukan hal gampang menemukan agen.”

Setelah dilirik FSG, karya Andrea Hirata lebih gampang go international. “Laskar Pelangi saat ini sudah terbit dalam Bahasa Jerman, Mandarin. Karena FSG, Laskar Pelangi sekarang terbit di Italia. Sekarang sedang terbit di Jepang.”

Andrea berharap ada penulis Indonesia lain yang bisa menembus sastra dunia. “Saya hanya memulai. Penulis lain juga bisa. Ini bukan tentang saya. Its about Indonesia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s