Ambil Alih Kemudi

Melihat perkembangan unit bisnis kelolaan mitra berjalan lamban, Primer Koperasi Angkatan Darat Pusat Persenjataan Infanteri (Pussenif) memutuskan mengambilalih kemudi. Pasca take over, ada unit yang berkinerja lebih baik, namun ada pula yang menurun.

           Perjalanan bisnis seumpama sebuah kapal yang kerap didera gelombang dan angin topan. Untuk itu, diperlukan nahkoda mumpuni agar layar senantiasa terkembang. Adalah Pussenif, koperasi yang berlokasi di Jalan WR Supratman Bandung, Jawa Barat, selama ini mempercayakan pengelolaan sebagian unit bisnisnya kepada mitra. Namun, demi melihat kapal bisnisnya jalannya melamban, Pussenif tak tinggal diam. 

Unit pangkas rambut salah satunya. Sebelumnya, unit usaha ini berjalan lumayan. Namun, belakangan kinerjanya menurun. Akhirnya, tahun ini Pussenif turun gunung dengan mengelola bisnisnya sendiri. ”Kami berharap kinerja unit ini lebih baik setelah kami ambil alih,” kata Suprijatna, S.Sos, Ketua Pussenif.

Bisnis lain yang di-take over adalah car wash alias cuci mobil. Unit ini naik kelas pasca diambil alih koperasi. Hal ini terlihat dari meningkatnya pendapatan. Pussenif juga mengambilalih unit toko yang sebelumnya sekitar tahun 2007 dipercayakan pada pewaralaba OMI. Alasan Pussenif menjalin kerjasama dengan salah satu pewaralaba ritel di Indonesia ini sama dengan koperasi lain. Performa waserda koperasi terus menurun di tengah kepungan ritel moderen dan tuntutan konsumen yang kian tinggi.

Indikasinya, partisipasi anggota bertransaksi rendah yakni hanya sekitar 40% anggota yang berbelanja di toko koperasi. Tak pelak lagi, omset toko pun terjun bebas. Sebenarnya, pengelola koperasi tidak berpangku tangan melihat fenomena ini. Terobosan seperti melakukan promo harga ke anggota pun telah dilakukan. Bahkan, strategi wajib belanja di toko koperasi dengan sistem potong gaji Rp 100 ribu per bulan pun ditempuh. Apa daya, anggota punya banyak pilihan. Alhasil, strategi ini kurang membuahkan hasil.

Melihat perkembangan toko yang kurang menggembirakan, akhirnya toko koperasi dikawinkan dengan konsep ritel moderen ala OMI. Selama kerjasama terjalin, pemasaran juga tetap dilakukan seperti memberi hadiah bagi anggota yang berbelanja paling banyak di koperasi. Selain itu, harga di toko koperasi pun diusahakan bersaing dengan ritel lain.

Hasilnya, setelah setahun berjalan, ada tanda-tanda perubahan yang menunjukkan ke arah kemajuan. Terbukti dengan pencapaian pendapatan yang melebihi target dari Rp 75 juta yang ditargetkan, tercapai Rp 166,1 juta atau terealisasi 121,5%.

Namun, kerjasama dengan OMI itu akhirnya harus berakhir juga tahun lalu ketika Koperasi Pussenif memutuskan mengelola toko sendiri. Setelah diambil alih koperasi, kinerja unit toko ini terbilang masih lumayan, namun angkanya masih di bawah performa toko saat kerjasama dengan OMI. Hal itu bisa dilihat dari tidak tercapainya target pendapatan dari Rp 200 juta yang ditargetkan hanya terealisasi Rp 154,3 juta. Besaran pendapatan ini jumlahnya juga masih di bawah capaian pendapatan kala kerjasama dengan OMI dengan raihan pendapatan sebesar Rp 166,1 juta.

 Pasang Surut

            Semua unit bisnis yang pernah dikelola pihak lain dan kemudian dikelola sendiri koperasi Pussenif seperti gelombang air laut, pasang dan surut. Seperti usaha cuci mobil yang kini performanya membaik, setelah sempat turun dua tahun lalu. Demikian juga unit pangkas rambut dan toko koperasi. Keduanya mengalami fluktuasi, kadang naik kadang turun.

            Sementara itu ada unit usaha yang trennya malah cenderung surut yakni wartel. Sebenarnya, kondisi serupa juga jamak ditemui di koperasi lain. Penyebabnya adalah kian terjangkaunya harga hand phone dan makin murahnya tarif telepon seluler. Sehingga, pengguna wartel pun menyusut.

            Di luar unit bisnis berkinerja fluktuatif, ada satu bisnis yang terbilang stabil bahkan terus naik yakni USP. ”USP perkembangannya bagus dan tiap tahun kinerjanya meningkat,” kata Suprijatna. Tahun 2007 misalnya, pendapatan ditargetkan Rp 370 juta dan terealisasi Rp 483,4 juta atau 30,6% melebihi target. Hal sama juga terjadi tahun lalu. Pendapatan USP ditargetkan Rp 483,4 juta (2007) dan tercapai Rp 539,6 juta.

            Merespons kinerja USP yang kinclong, Koperasi Pussenif berusaha meningkatkan modal koperasi untuk menyuburkan USP. ”Pemupukan modal di Pussenif terus digalakkan dalam rangka kesejahteraan bersama,” kata Suprijatna. Tahun 2008 jumlah seluruh simpanan mencapai Rp 650,8 juta dengan simpanan pokok Rp 14,9 juta, simpanan wajib Rp 220,3 juta, dan simpanan wajib khusus Rp 415,6 juta.

            Sama seperti unit usaha, jumlah simpanan di Pussenif juga ada yang trennya naik, ada pula yang trennya turun. Seperti simpanan pokok, pada 2006 berjumlah Rp 15,2 juta turun menjadi Rp 15,1 juta dan turun lagi menjadi Rp 14,9 juta. ”Hal ini disebabkan berkurangnya anggota karena mutasi atau pensiun.”

Sedangkan simpanan wajib trennya meningkat karena adanya pembayaran  simpanan tiap bulan. Tahun 2006 jumlah simpanan wajib Rp 196,3 juta naik menjadi Rp 200 juta (2007) dan berkembang menjadi Rp 220,3 juta (2008). Tren menurun dialami simpanan wajib khusus dari Rp 460,5 juta (2006) menjadi Rp 447,5 juta (2007).

Untuk simpanan sukarela, besaran tiap anggota terhitung variatif. Ada anggota yang hanya memiliki simpanan sukarela Rp 6 ribu, tapi ada juga yang simpanan sukarelanya ratusan ribu, jutaan bahkan puluhan juta. Ada pula anggota yang jumlah simpanan sukarelanya mencapai ratusan juta yakni Rp 107 juta hingga Rp 210,7 juta.

 Perkembangan Kinerja Koperasi

(dalam rupiah)

Uraian 2006 2007 2008
Anggota 580 orang 588 orang 533 orang
Aset 2,66 miliar 3,79 miliar 4,35 miliar
Pendapatan   840 juta 871,7 juta
SHU 415 juta 425,1 juta 457,2 juta
Ekuitas 1 miliar 1,22 miliar 1,28 miliar

            Sebagai lembaga ekonomi koperasi, wajar jika Pussenif tidak hanya concern bisnis, tetapi juga fokus pada kesejahteraan anggota dengan memberi bantunan sosial seperti santunan kematian Rp 400 ribu kepada anggota, Rp 350 ribu kepada suami atau istri, Rp 300 ribu untuk anak anggota. Selain itu ada santunan opname bagi anggota dan keluarganya, biaya kecelakaan cacat, bingkisan hari raya, dan sumbangan ke lembaga lain. Pussenif juga memberikan beasiswa bagi anak anggota yang duduk di SD, SLTP dan SLTA.

Selain membantu, Koperasi Pussenif ternyata juga dibantu. Dalam upaya memberdayakan koperasi di Jawa Barat, tahun lalu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memberikan bantuan sosial kepada Pussenif bersamaan dengan even Cooperative Fair. Kalau dilihat dari nominal, jumlah bantuan memang tidak seberapa. ”Tapi, kami bersyukur memperoleh bantuan ini, dan kami juga akan terus membantu anggota” kata Suprijatna. Bukankah tangan di atas memang lebih baik ketimbang tangan di bawah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s