Agar Koperasi Sekunder Tetap Dilirik Primer

Temanku bernama Khoirul saat ini menjadi manajer BMT di Banten, Jawa Barat. Saat kutanya mengapa koperasi BMTnya tidak menjadi anggota koperasi syariah sekunder, Khoirul menjawab,” Kalo untuk saat ini belum mba. Karena kalaupun bergabung, kami tidak mendapat manfaat signifikan.” Ia mencontohkan, jika BMTnya meminjam ke sekunder tersebut, bagi hasil atau jika dikonversi jasa, bunganya lebih tinggi dari BMT. Selain itu, ia belum melihat fasilitas lain yang ditawarkan ksekunder koperasi ybs ke BMT.

Kian melemahnya fungsi dan kedudukan sebagian koperasi sekunder di mata anggota ataupun primer yang potensial menjadi anggotanya, harus menjadi perhatian kalangan pengurus sekunder koperasi. Supardi (bukan nama sebenarnya) misalnya, pengurus koperasi serba usaha di Jakarta. Ia mengakui, saat ini sekunder KSUnya sudah tidak begitu berpengaruh bagi koperasinya. “Kami tidak meminjam ke sekunder karena bunganya sama dengan di koperasi kami,” ujarnya. Selain bunganya sama, ternyata market atau pengguna jasa juga sama, yakni masyarakat perorangan. Padahal, sebagai sekunder, seharusnya Pus KSU melayani koperasi primer.

Apakah bisnis yang sama, menjadi hambatan hubungan harmonis koperasi sekunder dengan primer? Menurut Supardi, justru bisnis yang sama malah menjadi koneksi koperasi primer dan sekunder. Hal senada juga diungkapkan Abat Elias, General Manager Inkopdit atau Induk Koperasi Kredit  (Sekunder Koperasi Kredit). Menurutnya, bisnis yang sama bisa menjadi hambatan, jika market koperasi sekunder dan primer sama, yakni anggota perorangan. Tapi, jika koperasi sekunder hanya melayani anggota koperasi primer, justru bisnis yang sama menjadi penguat hubungan primer dan sekunder. Dan yang pasti, jika bisnisnya itu simpan pinjam, maka jasa pinjaman di koperasi sekunder harus lebih rendah ketimbang jasa koperasi primer.

Jurus lain agar koperasi sekunder tetap ‘di hati’ anggota koperasi primer, maka koperasi sekunder harus memiliki nilai lebih lain. “Koperasi sekunder seharusnya bisa membuka akses pemasaran bagi anggota koperasinya,” kata Drs. Harsono, pegiat koperasi di Semarang. Lainnya, koperasi sekunder berperan sebagai pintu pembuka, akses, atau pelobi dengan lembaga lain bagi anggotanya. “Misalnya, sekunder koperasi konsumen bisa melobi pihak produsen seperti Indofood atau Unilever memberikan potongan harga lumayan untuk koperasinya,” imbuh Harsono.

Lainnya, kata Abat Elias, sekunder koperasi berperan sebagai monitoring kesehatan koperasi dan lembaga fasilitator. “Inkopdit melakukan pengawasan kesehatan koperasi anggota. Kami juga menyediakan fasilitas training untuk memperkuat SDM dan organisasi lembaga,” ujarnya. Uniknya, training yang digelar Inkopdit di hotel itu tidak gratis. “Anggota diwajibkan membayar, kadang Rp 3 juta, Rp 4 juta, dan mereka bersedia. Karena materinya memang dibutuhkan anggota, dan instrukturnya kompeten, tidak asal,” jelas Abat. Abat juga menambahkan, jika koperasi sekunder tetap dilirik anggota, maka pengurus dan manajemen harus memiliki kompetensi ‘lebih’ ketimbang anggotanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s