Pengusaha Koperasi?

Longgarnya ijin pendirian koperasi, telah melahirkan profesi baru:PENGUSAHA KOPERASI. Mengapa pengusaha koperasi? Pengusaha koperasi adalah pemilik koperasi yang menjalankan bisnis koperasi seperti perusahaan terbatas. Padahal, koperasi itu milik orang banyak, milik anggota, bukan milik perorangan atau milik satu dinasti keluarga.
Para pengusaha koperasi itu mendirikan koperasi dengan motif bisnis untuk kepentingan pribadi. Meskipun, mereka kerap berkoar-koar bahwa tujuan didirikannya koperasinya itu untuk membantu pengusaha kecil. Alamak, mulia sekali tujuan itu. Kalau tujuannya ‘sekilas’ baik, untuk menolong, akhirnya menjadi tidak jadi baik karena caranya salah dan membahayakan uan masyarakat. Lho kenapa?
Pasalnya, selain mengedarkan uang, para pengusaha koperasi ini juga menghimpun dana dari masyarakat luas. Padahal, tidak ada lembaga yang mengawasi koperasinya dan menjamin simpanan masyarakat. Selain itu, anggota sebagai pengontrol koperasi pun tidak ada. Jadi, fungsi pengawasan tidak ada. Lain banget dengan BPR dan bank yang diawasi BI.
Selain itu, para pengusaha koperasi ini telah melacurkan prinsip-prinsip koperasi. Mereka menabrakn rel jati diri koperasi. Contohnya, kepemilikan koperasi dibatasi. Meminjamkan dan menghimpun uang dari masyarakat banyak, non anggota. Apalagi memberdayakan masyarakat dengan merubah mindsetnya melalui pendidikan. Ya jelas tidak ada lah….
Dengan gampangnya mendirikan koperasi, dan keuntungan nan menjanjikan, kini banyak pengusaha koperasi mendirikan koperasi simpan pinjam (KSP) minus anggota. Jenis koperasi seperti ini sangat gampang dikenali. Mereka menyalurkan pinjaman ke masyarakat non anggota dengan bunga pinjaman lumayan. Mereka juga tidak mengijinkan atau membatasi masyarakat menjadi anggota koperasi. Kenapa anggota dibatasi? Karena praktek yang terjadi, bunga pinjaman anggota lebih rendah ketimbang bunga pinjaman nonanggota. Rugi dong buat pengusaha. Karena tujuannya keuntungan pribadi. Selain itu, mereka beralasan, anggota banyak tidak efektif dan high cost.
Jika kita menyusuri jalur Pantura, sepanjang Semarang hingga Rembang Jawa Tengah, akan mudah dijumpai jenis KSP yang sebenarnya lebih mirip koperasi-koperasian. Bahkan, beberapa diantaranya terang-terangan memasang pengumuman, CUKUP DENGAN BPKB, ANDA AKAN DAPAT PINJAMAN. Waduh….kalau seperti ini ya tidak ubahnya dengan rentenir.
Bisnis memutar uang memang paling gampang dilakukan. Karena low risk, dan banyak orang yang membutuhkan. Terlebih, di daerah kering seperti Jawa Tengah.
Dengan keuntungan di depan mata, dan bisnis yang gampang dijalankan, tak heran jika saat ini banyak pemodal yang melirik bisnis koperasi-koperasian ini.
Toh, selain mendapat keuntungan pribadi dalam jumlah besar, mereka juga bisa mendapatkan penghargaan dari negara bak seorang pejuang yang membela kepentingan rakyat. Bahkan, dengan mendirikan koperasi, bisa menjadi nilai lebih atau nilai jual kalau suatu saat ingin nyaleg:p
Padahal, dalam prakteknya mereka tak ubahnya seperti rentenir, bajunya saja yang bernama koperasi. Mereka mengeksploitasi kemiskinan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Tidak ada pemberdayaan dan pendidikan di dalamnya. Bahkan, koperasi jenis ini cenderung mendorong masyarakat bawah untuk terus-terusan meminjam tanpa dibekali ilmu pengelolaan keuangan dan peningkatan keterampilan. Kalau sudah begini, para pengusaha koperasi tadi tak ubahnya seperti kaum kapitalis lain. Dan, yang paling dirugikan adalah nama koperasi itu sendiri. Koperasi yang seharusnya untuk menyejahterakan orang banyak atau anggotanya, akhirnya hanya memberikan fulus bagi pemiliknya yang biasanya berasal dari satu keluarga. Kesejahteraan pun dijamin hanya berputar di sekitar keluarga pengusaha koperasi. Masyakarat peminjam?Silakan gigit jari!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s