Bening Penampilanmu Buram Koperasiku

Penyakit korupsi telah mewabah hampir ke seluruh sendi kehidupan di negeri ini. Gembar gembor menangkap koruptor dan menjebloskannya ke penjara, tidak membuat para ‘tikus’ gentar, malah mereka praktek terang-terangan dan secara terbuka, tak terkecuali di koperasi. Keinginan untuk hidup mapan, enak, berpenampilan wangi dan necis, membuat orang mudah gelap mata.
Tak pelak lagi, apa yang bisa didagangin, ya dibisnisin saja. Gitu saja repot…
Salah satu temanku menjadi korban dari racun tikus dan gaya hidup yang maunya hidup enak, meski harus memakan uang bukan haknya.
Sekitar dua tahun lalu, teman saya, pengusaha komputer kelas teri (maaf friend), mengeluh soal uangnya berjumlah Rp 10 juta ‘yang lenyap’ untuk syarat tender di satu-satunya lembaga gerakan koperasi di Indonesia. “Kalau tidak memberi uang muka, tidak bisa ikut tender,” ujarnya.
Ternyata, setelah uang Rp 10 juta masuk ke kantong salah satu oknum yang duduk di Dekopin, tidak ada kabar berita soal tender yang dijanjikan. “Saya punya banyak bukti,” bebernya.
Bahkan, aroma ketidaktransparan penggunaan uang rakyat kian terang benderang, kala Dekopin pimpinan Adi Sasono yang kini terpilih lagi, tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan. Anehnya, di antara pemimpin paripurna ada beberapa orang yang mengaku tidak tahu menahu penggunaan uang rakyat itu. Sudah menjadi kewajiban pengurus untuk mempertanggungjawabkan ‘bantuan dari pemerinta’ itu. Tidak boleh ada dalih, karena aliran uang itu dari pemerintah, ya pertanggungjawabannya ke pemerintah. Kalau begitu, anggota itu dianggap sebagai apa? Sebagai nama pajangan untuk mendapatkan anggaran? Kalaupun akhirnya diputuskan untuk membuat laporan keuangan paling lambat tiga bulan, hingga sekarang belum ada kabar burungnya. Tapi, tidak seharusnya karena ketiadaan LPJ Keuangan di Dekopin ini juga menjadi alasan pembenaran oleh gerakan koperasi lain untuk menciptakan dualisme kepemimpinan di Dekopin.
Baru-baru ini saya juga sempat syok, saat tahu praktek yang tidak elok dan sama sekali baunya tidak sedap dan akan membusuk yang terjadi dalam wadah tunggal gerakan koperasi Indonesia.Lagi-lagi soal penyimpangan uang. Kali ini tidak berhubungan dengan uang rakyat, tapi dengan negara lain. Celakanya, akibat praktek tidak terpuji ini, nama koperasi Indonesia pun ikut tercela. Kalau orang mungkin sudah masuk DOT (Daftar Orang Tercela). Karena ini menyangkut lembaga, jadi DPT kali….maksudnya Daftar Praktek Tercela.
Tidak hanya sampai di situ. Dari data-data yang saya peroleh, banyak penyimpangan dalam proyek “MEMPERDAYAKAN’ koperasi dan UKM di tanah air. Para elitis koperasi tak ubahnya politisi yang jualan nasib koperasi dan usaha kecil untuk mendapatkan keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Bukan untuk memperbaiki koperasi, bukannnn….Ah…itu sangat idealis dan tidak realistis. Mungkin itulah nyanyian hidup mereka. Tapi lebih pada upaya untuk menebalkan kantong masing-masing. Makin tebal, makin ngetop. Pasalnya, untuk menduduki kursi nomor satu di wadah tunggal gerakan koperasi juga butuh modal besar. Kecuali, menjadi ketua umum bisa dengan hanya modal dengkul dan integritas. Wah wah koperasi di Indonesia pasti maju…..
Lihatlah gaya hidup para politisi koperasi itu. Gimana merangkul yang kecil, gaya hidupnya saja jauh dari kesan merakyat. Orang luar yang melihat gaya para politisi koperasi ini pasti geleng-geleng kepala, karena nasib koperasi tidak sebening penampilan mereka.
FBJKT

One thought on “Bening Penampilanmu Buram Koperasiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s