Mengapa Kangen Dia Di Pagi Hari?


Menenangkan rindu itu sama sulitnya dengan memadamkan api di lahan gambut. Bisa hilang, tapi muncul lagi dengan kobaran api lebih besar. Dan rindu itu terasa meledak-ledak begitu dirimu bangun tidur. Sepagi itu pikiranmu sudah gaduh akan sosoknya. Apalagi kalau bukan karena kangen?
Ya, bagi yang sedang jatuh cinta pasti pernah mengalami ini. Mata juga masih kriyep-kriyep, hatimu sudah kalang kabut oleh perasaan rindu. Rindu itu akan ketemu ujungnya ketika kamu dan dia sama-sama suka dan gampang untuk bersua. Nah, bagaimana rindu yang mendera orang-orang yang kekasihnya jauh di mata alias LDR-an? Yang paling kasihan rindu milik orang yang mencintais secara diam-diam. Atau rindu yang merajam orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan?
Bagi pecinta yang menjalin kisah LDR, rindu masih bisa menemukan peluang ketemu ujungnya. Yaitu bertemu dengan yang tercinta. Karena zaman sudah era digital, pertemuan bisa berlangsung secara online melalui skype atau video call. Itu pun kerap menumbuhkan rindu yang lebih dalam karena tidak bertemu langsung. Bagaimana dengan yang mencintai diam-diam atau bertepuk sebelah tangan? Kalau keadaannya demikian, rindunya tidak akan berujung. Dan kamu tahu betapa pilunya rindu yang tak berhulu?
Nah, ada satu pertanyaan tentang rindu itu sendiri. Kenapa pagi hari kamu mendadak kangen banget dia? Padahal semalam sudah berjumpa? Karena hormon cinta (oksitosin) kadar tertingginya di pagi hari. Makanya, perasaan kangen akan muncul pada pagi hari. So, nggak perlu kaget atau bingung yah kalau kamu mendadak kangen dengan si dia. Kalau punya pasangan, tinggal kirim pesan atau telpon dia. Kalau mencintai diam-diam atau bertepuk sebelah tangan, tulis saja kalau kamu sedang rindu.

Why Are You So Different?


Pernah melihat teman atau orang yang kamu kenal berubah attitude-nya ketika berinternet? Mungkin jawabannya banyaaaaak haha. Ada yang berubah menjadi alim ketika berinternet, namun ada juga yang berubah liar dengan kata-kata jorok dan kasar.
Sebut saja namanya bunga. Keseharian gadis yang bekerja di salah satu bank di kota Kembang itu jauh dari kesan religius. Bahkan, tampilan sehari-sehari cewek berparas ayu itu sangat seksi. Ia juga terlibat kasus penggunaan dana kantor.
Bagi yang tidak mengenalnya di dunia nyata, akan tertipu dengan kemasan cewek ini di internet yang image-nya salihah. Bahkan, postingannya tidak jauh jauh dari Al Quran dan Hadist. Siapa yang nyangka kalau dalam realitanya ia tidak seperti yang diposting di internet.
Atau kamu pernah ketemu cowok yang picture-nya kece. Dan kamu yakin seyakin-yakinnya ia ganteng dan pintar. Karena bio-nya di facebook sangat meyakinkan. Begitu ketemu, kamu kecewa karena kenyataannya tidak seperti itu. Jika kamu langsung bisa move on masih bagus. Sayangnya, ada sebagian cewek yang susah move on, meski sudah tahu cowok yang dikenalnya via internet tidak sebaik imajinasinya. Bahkan, kita juga tahu ada banyak kasus penipuan dari modus kenalan dan pacaran dari social media.
Hal yang sulit adalah menebak karakter asli dari teman yang kita kenal secara online. Karena bisa saja karakter yang sebenarnya bukan seperti persepsi kita ketika berinteraksi secara online. Orang bisa berpura-pura baik, sopan ketika chatting. Karena ia tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara. Sebaliknya, orang juga bisa marah-marah, menggunakan kata-kata kasar, menghina orang lain dengan santainya karena merasa ia tidak dilihat langsung lawan bicaranya. Juga tidak ada sangsi secara langsung atas kata-kata kasarnya.
Makian atau hinaan yang terjadi pada orang dewasa menimbulkan perasaan sakit di hati korban. Apalagi jika makian itu terjadi pada diri remaja yang sedang mencari identitas diri. Makian atau hinaan secara online di kalangan remaja masuk kategori cyberbullying yakni bentuk flaming.
Ya, internet membuka ruang namanya disinhibited effect. Karena disinhibited effect ini merupakan salah satu karakter dunia maya. Maksudnya, ketika berinternet orang merasa bebas melakukan apa saja, mengucapkan apa saja, atau berperilaku berbeda dengan dirinya di dunia nyata karena minimnya sensor dari orang lain. Misalnya orang yang di dunia nyata yang berpikir dampak jika mengumpat, bisa jadi ketika mengumpat di ineternet dilakukan secara spontan karena merasa tidak ada dampak yang ditimbulkan. Atau seseorang yang akan berpikir seribu kali jika menghina seseorang di dunia nyata, bisa melakukannya ketika online. Karakter internet yang minim sensor, tidak memberikan sanksi sosial secara langsung atas perkataan dan perbuatan, memungkinkan membuat identitas palsu (anonimity), dan bisa menghindar atas konsekuensi dari komentar kita dengan meng-off-kan internet, membuka ruang bagi individu untuk berperilaku berbeda dengan keseharian.
So, internet memungkinkan satu individu mempunyai banyak karakter ketika online. Orang yang aslinya baik bisa berubah menjadi pribadi dengan kata-kata kasar atau liar. Internet hanyalah modalitas buah dari kemajuan peradaban manusia. Ia tidak mempunyai daya kontrol untuk mengerem tingkah laku manusia yang mendadak abnormal ketika berinteraksi secara daring. Konsistensi tetap menjadi pribadi yang sama ketika berinteraksi secara online dan offline ada pada individu. Disinilah self control dari individu menentukan. “One’s greatest challenge is to control oneslef.” –Kazi Shams.

“About sunglasses”


Sunglasses is one of my favourite fashion accessories. You can wear it to cover our tired eyes. But to get ultima performance, we have to choose sunglasses that fit into our face. Here tips about choose sunglasses that released on http://www.cosmopolitan.com
Harvey Moscot, the fourth generation owner of 100-yr old optical brand MOSCOT, suggests keeping these 4 general tips in mind when it comes time to buy your next pair:
1. Contrast — “The shape of your frame should contrast the shape of your face, so if you have rounder features, you want more angular glasses, and if you have more angular features you want to soften them with more curved shapes.”
2. Proportion — “In general, you want your frames to be in proportion with the rest of your face. It’s different when you are shopping for sunglasses, which tend to be larger for greater coverage, but what looks good as a sunglass will not necessarily look good in optical.”
3. Color — “Choose a color that compliments your features. Black is always good for highlighting and outlining your eyes. Glasses that contrast the tone of your face and hair will stand out more, but it’s up to you how much of a statement you want your glasses to make.”
4. Face Shape — This is where it gets a little more complicated. Here’s the breakdown:
Heart-Shaped Faces — Aviators and Rimless Styles
“Aviators are good for balancing out a broader forehead with a narrower jaw line and a more pointed chin, because of the way they flare out at the bottom. Rimless styles are also good, because they keep the face from looking too top-heavy.”
Intinya, kalo mau makai sunglasses, harus mempertimbangkan bentuk wajah yah girls. Jangan sampai karena ingin kekinian, malah jatuhnya gak bagus buat penampilan kita.

Rayban

Rayban

photo 5(4)

What Is Cyberbullying?


080747_Cyber_Bullying

source: ucrtoday.ucr.edu

Menurut Kowalski (2008) dalam bukunya berjudul Cyberbullying: Bullying in the Digital Age parameter definisi cyberbullying (meliputi penyalahgunaan teknologi komunikasi menyangkut apa, kepada siapa dilakukan, dan bagaimana dampaknya) terbukti sulit terkait dengan metode cyberbullying yang beragam. Masalah terkait cyberbullying yang kompleks kadang-kadang menimbulkan ambigu.
Istilah cyberbullying dikenalkan oleh Bill Belsey dari Kanada dan kemudian berkembang pesat. Beberapa kalangan menamakan bullying di internet dengan sebutan bullying elektronik, online social cruelty (kekejaman di dunia maya), emotional wilding (Kowalski, 2008).
Dalam mendefinisikan cyberbullying biasanya juga menampilkan karakteristik khusus bullying tradisional (Slonje dan Smith, 2008), misalnya, perilaku agresif secara disengaja yang dilakukan oleh kelompok atau individu (diulang sepanjang waktu) terhadap korban (Whitney dan Smith, 1993; Olweous, 1999). Namun, aspek-aspek yang terdapat dalam bullying tradisional seperti repetisi atau tidak imbangnya kekuatan pelaku dan korban kurang bisa diterjemahkan secara langsung dalam konteks online. Beragam definisi cyberbullying telah ditunjukkan dalam publikasi dan instrument, beberapa di antaranya menggunakan kriteria dari definisi bullying tradisional Olweous (Tokunaga, 2010).
Cyberbullying adalah bentuk bullying yang terjadi ketika siswa atau beberapa siswa, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti e-mail, ponsel atau sms, instant messaging, personal websites, jejaring sosial (seperti facebook dll), game online, polling online untuk mendukung tujuannya menyakiti orang lain dengan berperilaku tidak menyenangkan (Belsey, 2004; Lines, 2007).
Cyberbullying bisa didefinisikan sebagai bullying yang dilakukan melalui handphone dan internet. Atau bullying yang dilakukan secara tidak langsung (covert bullying) melalui ponsel dan internet (online).
Secara umum cyberbullying dilakukan menggunakan ponsel dan internet. Namun, internet dan ponsel mempunyai fitur-fitur yang bisa diakses secara personal dan publik. Fitur inilah yang digunakan sebagai medium atau modalitas dalam melakukan cyberbullying.
Medium atau modalitas cyberbullying antara lain yang bersifat personal seperti e-mail dan sms. Juga yang bersifat publik atau bisa dilihat banyak orang seperti 1) instant messaging contohnya whatsapp (WA), blackberry messanger (BBM), yahoo messanger (YM); 2) social media seperti facebook, twitter, instagram, path; 3) grup online seperti facebook grup, WA group, BBM group. 4) Blog pribadi seperti blog di wordpress, blogspot, kompasiana, blogdetik, dll. 5) Website seperti postingan di website milik pribadi dan komentar di website berita.
Kejadian cyberbullying bentuknya beragam. Bentuk atau dimensi ini dikonsepsikan secara berbed-beda oleh para ahli. Willard (2006) membagi bentuk atau dimensi cyberbullying terdiri dari flaming, harassment, denigration, impersonation, outing, trickery, exclusion, cyber stalking, dan cyberthreats.
Sedangkan Kowalski et al (2008) membedakan bentuk atau dimensi cyberbullying terdiri dari delapan yaitu flaming, harassment, denigration, cyber stalking, impersonation, outing and trickery, exclusion or ostracism, dan happy slapping.