Mengapa Perlu Access Branding?

30 03 2011

Oleh
Drs. Christ Srie Harinto, S.Sn
Branding merupakan salah satu strategi bisnis. Bisa dilakukan oleh pelaku usaha dari kalangan swasta, juga koperasi. Formulasi yang bagus dalam penggunaan branding akan membuat koperasi kian kompetitif. Strategi branding juga akan menegaskan peran koperasi khususnya koperasi kredit di bidang finansial.
Apa itu branding? Branding merupakan hal urgen bagi keberhasilan strategi pertumbuhan koperasi kredit. Branding bukan hanya sekedar logo eksistensi koperasi secara nasional, tetapi jauh lebih luas dari itu. Di koperasi kredit dikenal Acces Branding yakni penilaian kesehatan koperasi oleh ACCU (Asian Confederation Credit Union) tingkat Asia.
Koperasi yang dinilai kesehatannya oleh ACCU akan mendapat sertifikat dan hanya berlaku berapa tahun untuk kemudian dievaluasi lagi. Sehingga sertifikat itu tidak berlaku selamanya. Tetapi akan dikaji lagi. Selain itu, koperasi juga berkesempatan meningkatkan peringkatnya. Misalnya dari kelas perunggu naik menjadi perak kemudian naik emas.
Dalam usaha perolehan sertifikat Access Branding, ACCU akan membantu koperasi kredit dalam hal: 1) mengembangkan berbagai strategi yang menekankan pada manfaat koperasi kredit sebagai lembagai keuangan yang ramah, lembaga keuangan yang manusiawi, lembaga keuangan impian, lembaga keuangan terdekat dan lembaga keuangan dunia.
2) Memberikan dukungan teknis untuk para anggota dalam menerapkan strategi branding; 3) Mengembangkan materi-materi periklanan yang akan menjadi model bagi koperasi kredit.
Nah, langkah-langkah yang harus dilakukan koperasi kredit dalam meraih sertifikat Access Branding antara lain: 1) mengembangkan tema yang sama sehingga anggota akan memberitahu anggota lain tentang pengalaman yang dirasakan sebagai anggota koperasi kredit.
2) Membangun dan menguatkan citra public tentang budaya koperasi kredit, paktek kerja, gaya manajemen, pelayanan prima dan istimewa bagi anggota. 3) Mengkoordinasikan branding organisasi dengan produknya. 4) Menguatkan manajemen koperasi kredit agar inovatif sehingga bisa memberikan lebih kepada anggota.
Manajemen inovatif memiliki kualifikasi antara lain 1) Menciptakan rasa penting dan rasa ingin tahu intelektual untuk segera bertindak; 2) Melibatkan pikiran, hati, dan impian para staf dan pengurus koperasi kredit; 3) Memberikan alasan yang jelas dan kuat bagi tim manajemen untuk bekerja. 4) Memberikan kesan kepada tim manajemen bahwa bekerja untuk koperasi kredit merupakan hal yang menarik, menyenangkan dan menantang, berharga, bermanfaat, dan staf akan selalu siap dan dengan senang hati bekerja setiap hari.
5) Mempunyai ‘kaki’ yang siap untuk melayani dalam jangka waktu lama, sebagai pesan organisasi; 6) Mengirimkan pesan tentang berbagai produk, alat, proyek, gaya manajemen, budaya dan peluang koperasi kredit. 7) Memiliki tema atau slogan memikat yang membuat koperasi kredit tampak professional dan dinamis dalam dunia perindustrian. 8) Membuat para staf koperasi merasa koperasi adalah organisasi dan pekerjaan idaman. 9) Pesan yang harus selalu diingat bagi anggota, pengurus, dan karyawan koperasi adalah ‘untuk saat ini dan selamanya’ dan menarik bagi semua generasi. 10) Dapat dipercaya. Jujur, dan bukan sekedar tipuan dari aspek hubungan masyarakat.
Kepemilikan sertifikat Access Branding menjadi suatu garansi koperasi yang bersangkutan memiliki kemampuan. Dan yang paling penting, koperasi kredit akan akan berubah menjadi lembaga keuangan yang dinamis dan kreatif.
Penulis adalah Ketua Kopdit Melati

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Buletin Melati dan Majalah WK





Perangi Kemiskinan Lewat GKN

30 03 2011

Pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kemiskinan. Melalui GKN, pemerintah berharap akan muncul entreperenur baru hingga mencapai ratio ideal.
Yuli, mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas Brawijaya (Unibraw) berjalan cepat memasuki convention hall Gedung Smesco Promotion Center (SPC) yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (2/2). Yuli dan ratusan mahasiswa lain dari beragam universitas hari itu duduk di balkon, ikut memeriahkan gelaran Gerakatan Kewirausahaan Nasional (GKN) bersama ribuan peserta lain dari kalangan pengusaha, pegiat koperasi, LSM, praktisi perbankan, dan pegawai di lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM.
Ratusan mahasiswa seperti Yuli yang mengikuti GKN bukan sekedar partisipan penggenap, hanya untuk menambah jumlah peserta agar terlihat banyak. Mereka tergabung dalam komunitas bisnis di kampus. “Saya ikut salah satu kegiatan bisnis mahasiswa di kampus. Nantinya saya juga berkeinginan memiliki usaha sendiri setelah lulus,” kata Yuli kepada WK. Ditanya apa jenis bisnis yang ingin digelutinya, Yuli dengan cepat menjawab,” usaha kripik pisang.”
Tidak semua peserta yang datang dalam perhelatan akbar seantusias Yuli. Seorang ibu yang duduk di samping WK agaknya hadir cuma sekedar instruksi di lingkungan kerjanya. Ibu berbaju batik itu datang saat Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menyampaikan sambutan. Begitu datang, bukannya menyimak, ia tertidur pulas. Ia bangun kala pidato SBY hampir selesai.
Seremoni pencangan GKN dimulai dengan sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan yang menyoroti pertumbuhan ekonomi sustainable 4,5 persen pada 2010 dan tahun ini ditargetkan 6,4 persen. “Opportunity bagi kita untuk meraih prestasi. Sehingga menjadi 8 persen pada 2014.”
Untuk meraih target pertumbuhan tsb, kata Sjarif, pemerintah menciptakan wirausaha inovatif melalui GKN. “Sehingga kita dapat meningkatkan ratio antara jumlah wirausaha dengan jumlah penduduk. Apabila ini tercapai, kesejahteraan rakyat semakin meningkat,” urai Sjarif.
Sjarif juga memaparkan program lain yang inline dengan tujuan GKN seperti program wirausaha 1000 sarjana, KUR, PNPM Mandiri, dll. “Kesemuanya itu komitmen pemerintah kepada generasi penerus bangsa menjadi wirausahawan, sebagai pencipta pekerjaan bukan job seeker.”
Sinergi dari seluruh program pemerintah tsb, kata Sjarif, akan mampu menciptakan wirausahawan handal, mandiri, mengentaskan kemiskinan dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Sejahterakan rakyat, melalui wirausaha,” teriak Sjarif lantang mengakhiri sambutannya.
Peserta kemudian diajak melihat progress program-program pemerintah dalam upaya menyejahterakan rakyat melalui tayangan video. Dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada puluhan tokoh yang dianggap berjasa dalam bidang entrepreneurship serta bantuan program KUR kepada pelaku UKM dan koperasi.
Koperasi yang mendapat penghargaan antara lain Kospin Jasa, KSU Setia Bhakti Wanita, Malang. Koperasi yang maju ke depan sebagai penerima pinjaman KUR yakni KJKS BMT Sejahtera.
Kepala daerah yang dianggap berperan penting dalam wirausaha antara lain Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Timur Sukarwo, Gubernur FKI Jakarta Fauzi Bowo, dan Gubernur Sulawesi Selatan Agus P.
Sambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi jantung acara GKN. “Seorang yang tidak pasif, aktif untuk menemukan sesuatu bagi kemajuan hidupnya, itulah hakikat entrepreneur,” kata Presiden SBY mengawali sambutannya. SBY menekankan wirausaha tidak identik dengan UMKM. “Tetapi hampir pasti, seorang wirausaha memulai bidangnya dari usaha mikro, kecil, dan menengah. Sehingga ada pertautan dari kecil tumbuh.”
Kewirausahaan , UKM dan koperasi, kata Presiden, harus dikembangkan di seluruh Indonesia karena akan menciptakan aktivitas baru, pekerjaan baru. “Pertanyaan berikutnya, apakah ada peluang bagi wirausaha baru? Jawabnya masih. Negara kita punya sumber daya alam dan sumber daya manusia berlimpah. Ekonomi di Indonesia masih sangat bisa dikembangkan bagi para entrepreneur.”
Presiden menambahkan, penguasaan IPTEK, karya-karya baru, dan kreativitas baru menjadi modal entrepreneur. Pemerintah, kata persiden, juga akan mendukung wirausaha melalui bantuan pelatihan, pinjaman modal termasuk KUR.
Mata rantai hubungan kewirausahaan, pendapatan, penghasilan, dan pengurangan kemiskinan juga disoroti oleh Presiden. “Banyak piminan PTN, mahasiswa yang bertanya mengapa kebijakan pemerintah baik nasional maupun daerah hanya mengejar pertumbuhan semata (growth) dan tidak mengejar penyamarataan penghasilan dan pengurangan kemiskinan,” ujar Presiden.
SBY kemudian menjabarkan kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan, pro kesempatan kerja, pro pengurangan kesempatan kerja, pro lingkungan. Lewat program tsb, kata presiden, kemiskinan berkurang. “Tidak sedikit yang dialokasikan untuk mengurangi kemiskinan, pertumbuhan, disertai pemerataan,” terang Presiden menambahkan,” Pertumbuhan naik, terjadi pengurangan kemiskinan. Tentu golongan ekonomi lemah dengan program-program pro rakyat yang anggarannya tidak sedikit.”
Di akhir sambutannya, Presiden menekankan pentingnya wirausaha. “Wirausaha sangat penting. Karena kalau tercipta wirausaha baru, otomatis pengangguran akan berkurang, kemiskinan berkurang, ada aktivitas usaha baru, bisnis baru. Wirausahawan adalah pahlawan ekonomi rakyat,” pungkas Presiden.
Libatkan 13 Kementerian
GKN diusung oleh 13 kementerian seperti Kementerian KUKM, Kemendiknas, Kemenperin, Kemendag, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian BUMN, Kemenbudpar, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Pertanian.
Sebelum puncak GKN yang berlangsung 3 hari (2-4 Februari 2011), panitia menggelar rapat di Kementerian Koperasi dan UKM dan diikuti oleh perwakilan dari 13 institusi kementrian dengan Agus Muharram, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kemenkop UKM sebagai salah satu pimpinan rapat. Salah satu agenda yang dibahas pada rapat yang digelar akhir Januari lalu adalah peserta bazaar GKN.
Pada pencanangan GKN, ratusan stan bazaar berisi produk kerajinan hingga lembaga keuangan baik koperasi, BPD, dan bank nasional memenuhi ruangan Smesco, seakan menggenapkan seri rangkaian acara GKN lain seperti entrepreneur summit, pelatihan kewirausahaan, dialog kewirausahaan bisnis berbasis internet, dialog PKBL. Semoga nafas GKN panjang, tidak berhenti pada pencanangan.

Sudah dipublikasikan di Majalah WK





Karyawan Mencapai Ratusan Orang

1 01 2011

Koperasi Inti

Tahun lalu, Koperasi Inti yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat menutup akhir tahun dengan beberapa capaian. Seperti aset yang naik dari Rp 28,3 miliar (2008) menjadi Rp 37,8 miliar (2009). Modal koperasi juga meningkat dari Rp 3,5 miliar (2008) menjadi  Rp 3,8 miliar(2009). Demikian juga sisa hasil usaha (SHU). Satu-satunya yang tidak naik adalah jumlah anggota yang turun dari 1.058 orang menjadi 869 orang.

Penurunan anggota itu terjadi pada anggota luar biasa dari 363 orang (2008) menjadi 173 orang (2009). Jumlah anggota biasa malah bertambah, meski hanya satu orang dari 645 orang menjadi 646 orang. Di luar itu, ada anggota nonaktif yang jumlahnya ajeg.

Anggota luar biasa yang menjadi salah satu komponen anggota Koperasi Inti berasal dari karyawan anak perusahaan PT Inti yang jumlahnya puluhan. Anak perusahaan itu bergerak di bidang jasa penyediaan security atau satpam dan jasa tata graha.

Ada beragam usaha yang dikelola Koperasi Inti seperti perdagangan, jasa, dan intimart yang jilidnya hingga dua, fotocopi, apotek, rumah makan inti resto, dan unit simpan pinjam (USP).  Dengan bejibunnya jumlah bisnis yang dibesut, wajar jika jumlah karyawan mencapai ratusan, 112 orang.

Nah, agar karyawan yang jumlahnya tidak sedikit itu tetap produktif, Koperasi Inti melakukan berbagai upaya peningkatan kompetensi karyawan koperasi. “Kami terus meningkatkan kualitas SDM melalui program pelatihan dan beasiswa pendidikan, penyesuaian kompensasi, menciptakan hubungan kerja yang lebih harmonis, dan memberikan jaminan kepastian melalui perjanjian kemitraan,” kata Ketua Koperasi Inti Drs. Rudy Lizwaril, SE, MM, Ak, CBA

Dengan meng-up grade karyawan secara simultan, koperasi yang berada di lingkungan PT Inti ini berharap setiap tahunnya selalui dihiasi dengan keberhasilan.

Tulisan ini telah dipublikasikan di Majalah WK

 





Diversifikasi Usaha Kuncinya

6 12 2010

Keragaman bisnis menjadi salah satu jawaban KP-RI UNM menyejahterakan anggota. “Kami menjangkau berbagai kebutuhan anggota melalui diversifikasi usaha,” kata Ketua KP-RI UNM Drs. Syarifuddin Aspa, MS.
Bisnis koperasi pegawai Universitas Negeri Makassar (UNM) mengalir jauh. Padahal, awalnya, KP-RI UNM Makassar hanya mengenal simpan pinjam. Jadilah unit simpan pinjam (USP) menjadi bisnis pertama koperasi beranggotakan pegawai di lingkungan kampus UNM. “Sejak berdiri, tahun 1982 kami hanya fokus pada USP,” jelas Aspa, panggilan Syarifuddin Aspa.
Namun, kebutuhan anggota ternyata tidak melulu pinjaman uang. Maka, lahirlah toko koperasi yang menjual alat tulis kantor, kebutuhan sehari-hari juga foto copy pada 2005. Setahun sebelumnya, KP-RI UNM juga membuka usaha kavling dan perumahan. Tahun lalu unit ini menjual tanah di Mawang, Pakkatto, dan satu unit rumah di BTN Minasa Upa. Selain itu, KP-RI UNM juga kerjasama dengan PT Malomo Mega Lestari Makassar membangun perumahan dosen UNM di Ana Gowa Bontoala Kabupaten Gowa sebanyak 41 unit.
Dengan jam terbang di bidang bisnsi yang lumayan tinggi, menjadikan bisnis KP-RI UNM membelah hingga enam cabang mulai kredit atau USP, jasa, perdagangan umum atau distributor, kontraktor, toko, hingga industri. Kegiatan usaha dalam lingkup jasa antara lain pembayaran PDAM, listrik, telepon, penjualan tiket perjalanan, kursus, cleaning service, training, penyaluran produk, jasa konsultan, dan penagihan atau kolektor.
Unit perdagangan umum menangani distribusi hasil pertanian, pupuk, kendaraan, dan elektronik. Sedangkan industri mencakup usaha bengkel, pertukangan, mengelola hasil pertanian, percetakan atau penerbitan.
USP sebagai unit perdana hingga kini berada di nomor pertama. Volume pinjaman terus meningkat signifikan. Tahun 2008 sebesar Rp 28,36 miliar naik menjadi Rp 34,67 miliar (2009). Kenaikan juga terjadi pada unit toko dari Rp 438,5 juta (2008) menjadi Rp 727 juta (2009).
Diversifikasi usaha memang hanya salah satu cara menyejahterakan anggota. Masih ada empat poin yang dijalankan KP-RI UNM dalam meningkatkan kesejahteraan anggota. “Langkah kami menyejahterakan anggota antara lain memperbesar omset usaha, memperkuat hubungan kelembagaan dan anggota, menurunkan suku bunga dan harga barang, memaksimalkan pemenuhan kebutuhan anggota, dan diversifikasi usaha,” papar Aspa.
Namun, kata Aspa, ada aspek lain sebagai penentu peningkatan kesejahteraan, yakni kinerja tim. “Pasalnya, tim ini yang mencari sumber dana dengan bunga rendah, komoditi dengan harga rendah, investasi, pasar, uang, barang, dan modal.” Untuk itu, tim tsb harus mampu menyederhanakan proses dan membuat jaringan yang kuat dengan berbagai perusahaan, imbuhnya.
Networking yang kuat, mustahil dikesampingkan. Tahun lalu KP-RI UNM telah membentangkan tali kerjasama dengan BMT Al Markas Makassar, Koperasi Al Markas Makassar, Kopma Almamater, Kopwan Anggrek Makassar, Bimbel JILC, BPSNT Makassar, SMPN 16 Makassar, dan PT Malomo Mega Lestari Makassar. “Kami juga bekerjasama dengan berbagai pihak baik departemen, BUMN ataupun swasta lainnya. Ini untuk menciptakan image KP-RI yang lebih baik.”
Pelayanan menjadi pintu peningkat kesejahteraan. “Dengan pelayanan baik, bisnis koperasi berkembang, kesejahteraan anggota meningkat,” ujar Aspa. Wajar jika mutu pelayanan koperasi diupayakan terus membaik. “Kami memiliki motto five minute in twenty hours service, zero complain, and soft care” kata Aspa. Motto lain yang menjadi jantung kehidupan koperasi ini adalah integrated board and welfare members.
Integrated board diterjemahkan dengan setiap pengurus tidak hanya concern dalam bidang organisasi, tetapi juga operasional bisnis. Ketua misalnya, selain sebagai pemegang kebijaksanaan umum, juga mengurusi funding, dan penyediaan dana. Bendahara mengelola funding, penyediaan dana, dan mutasi dana. Wakil ketua bertanggungjawab dalam pencairan kredit, Sekretaris memegang kendali kredit, personalia atau umum bertugas memfasilitasi dan menjaga stabilitas kantor.
Upaya terus meningkatkan kesejahteraan anggota juga dibuktikan dengan pengadaan program pensiun anggota. “Dengan program ini, kami berharap anggota bisa menikmati hari tuanya dengan jumlah uang pensiun yang lumayan,” terang Aspa.
Perkembangan Kinerja KP-RI UNM (dalam Rp dan orang)
2007 2008 2009 Okt 2010
Anggota 1.419 1.450 1.476 1.491
Aset 5,5 M
Omset 16 M 25 M 35 M 32 M
Ekuitas 7,9 M 16 M
SHU 600 Juta 700 Juta 900 Juta

Dari Dua Menjadi Sembilan
Aliran deras tidak hanya di lini bisnis. Gedung milik KP-RI UNM Makassar juga beranak pinak. Dari dua ruko di Jalan Pendidikan Komplek Balla Panakukang (depan kampus UNM) yang digunakan untuk kantor, USP, dan foto copy. Kini, dua ruko itu hanya menjadi bagian dari sembilan ruko milik KP-RI UNM. Ruko itu kini beralih menjadi unit fotokopi, sembako, dan percetakan.
Kantor KP-RI UNM kemudian boyongan ke gedung baru bergaya mediterania, masih di ruas jalan yang sama, pada Agustus 2010. “Ini tadinya kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen kami beli Rp 2,5 miliar,” jelas Aspa. Di samping gedung tiga lantai, juga terdapat sebuah bangunan satu lantai untuk toko koperasi. Selain sebagai kantor, gedung bercat salem itu juga difungsikan sebagai pusat unit simpan pinjam.
“Kami berharap suatu saat bisa membeli seluruh ruko di sepanjang ruas jalan ini. Saat ini kami baru bisa membeli ruko B1, B2, B4, dan B10,” jelas Aspa.
Tahun ini KP-RI UNM kembali menambah gedung baru. Kali ini lokasinya agak jauh dari kantor pusat, yakni di Tamalate dan Samata. Di Samata KP-RI UNM membangun empat ruko tiga lantai. Di Tamalate ada satu ruko tiga lantai. Keduanya bercorak minimalis dengan kombinasi warna dinding krem cokelat, dan krem, kuning, merah.
Untuk memiliki lima ruko itu, KP-RI UNM membenamkan investasi lumayan. “Empat ruko di Samata sekitar Rp 2,5 miliar, satu ruko di Tamalate sekitar Rp 600 juta,” jelas Aspa. Ia menjelaskan mengapa KP-RI UNM menanamkan uang di dua lokasi yang jaraknya sekitar 1 km dan 5 km dari kantor pusat KP-RI UNM. “Pengembangan kota saat ini ke arah Timur, daerah Samata dan Tamalate. Kami ingin KP-RI ada di daerah baru ini,” jelas Aspa.
Ruko di Tamalate nantinya akan diisi dengan bisnis ATK dan percetakan. Empat ruko di Samata akan diramaikan dengan penjualan mobil bekas, minimarket, dan cabang unit simpan pinjam. “Kami sedang menjajaki kerjasama dengan minimarket modern. Nantinya kami akan mengambil waralaba,” jelas Aspa. Ia berharap lima ruko itu sudah bisa beroperasi awal tahun 2011.
Sukses di bisnis, KP-RI UNM tidak melupakan lingkungan sekitar. Setiap tahun koperasi ini menggelontorkan budget khusus untuk kegiatan sosial. Tahun 2009 KP-RI UNM memberikan bantuan untuk pengelola kuburan UNM, Masjid Nurul Ilmi Gunungsari UNM Makassar, Palang Merah Indonesia (PMI), korban bencana alam, dll.
Susunan Pengurus
Ketua : Drs. Syarifuddin Aspa, MS
Wakil Ketua : Drs. H. Muh. Ibrahim, M.Si
Sekretaris : Dr. M. Ramli Umar, M.Si (nonaktif)
Bendahara : Drs. H. Abd. Rijal Saing, M.Si
Pengurus Umum : Sanudin
Pengawas
Ketua : Prof. Drs. H. A. Chaeruddin, MS
Sekretaris : Drs. H. M. Thamrin Tahir, M.Si
Anggota : Dra. St. Hajerah Hasjim, M.Si

Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah WK





Berharap Uang Kembali

26 11 2010

Widyatmoko tidak pernah menyangka, uang yang dikumpulkannya bertahun-tahun tidak jelas keberadaannya. Cerita bermula lima tahun lalu. Warga asal Magelang, Jawa Tengah itu menyetorkan uang di Koperasi Sumber Insan Mandiri atau Kopsim Cabang Klaten.

Lelaki paruh baya itu rajin menyetor dengan harapan jumlah uangnya membiak. Namun untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Tabungan laki-laki yang ketika dihubungi sedang sibuk menjadi panitia Idul Kurban itu tidak bisa ditarik.”Jumlah uang saya di Kopsim Rp 90 juta,” ujarnya kepada WK, Kamis (11/11).

Meski kehilangan hampir seratus juta, Widyatmoko tetap bersabar. Ia berharap suatu saat uangnya kembali. Ia malah kasihan kepada seorang koleganya, Joni, warga Bekasi, Jawa Barat. “Kasihan tuch Pak Joni, uangnya Rp 2 miliar di Kopsim, hingga sekarang nggak jelas,” tuturnya.

Nasib sama juga menimpa Suparni, warga Sidoarjo, Jawa Timur. Ia menabung Rp 8 di Kopsim Sidoarjo. Sudah setahun ia menanti. “Saya mau nagih pokoknya saja. Jangan hanya janji-janji, kita mau bukti. Ini sudah setahun lebih tidak ada kejelasan,” ujarnya kesal.

Eko Karyono lumayan beruntung. Pasalnya, sekitar 20 persen simpanannya bisa ditarik. “Tapi setelah saya menerima uang itu, sudah tidak bisa ditarik lagi.” Deposito Eko jatuh tempo pada Mei 2010. Tetapi sejak Desember 2009, atau enam bulan setelah menyetor, sudah tidak menerima bunga lagi, imbuhnya.

Eko menabung di Kopsim setelah menjual sapi. Ia mengaku didatangi tetangganya yang bekerja di Kopsim. “Ia membujuk saya menabung di koperasi. Karena bunganya menarik, saya mau.”  Ada 12 orang di desa Eko yang senasib dengan dirinya.

Nasabah lain, Syukur, yang memiliki deposito Rp 130 juta, mengaku pembayaran bunga simpanan mulai seret setahun terakhir. “Alhamdulillah, Rp 50 juta sudah saya ambil. Sisanya belum bisa balik hingga sekarang,” kata Syukur. Ia percaya menyimpan di Kopsim karena berbisnis di sektor riil. “Bisnisnya masuk akal. Kopsim punya usaha peternakan sapi, budidaya ikan, dan produksi tahu. Saya tahu, usaha ini ada keterkaitan,” ujarnya.

Syukur, Eko, Suparni, dan Widyatmoko tidak sendirian. Nasabah Kopsim di tempat lain juga mengalami hal senada. Desember tahun lalu, puluhan nasabah di Malang, Jawa Timur seperti  dilansir di harian Surya mendatangi kantor Kopsim Malang, Jawa Timur. Ratusan nasabah Kopsim Cabang Madiun Jawa Timur pada pertengahan Juli lalu juga menuntut hak pembayaran jatuh tempo dengan mendatangi kantor koperasi di Jalan Kapten Tendean Kota Madiun, Jawa Timur.

Pertengahan Juli 2010 ratusan nasabah di Kopsim Soloraya Boyolali, Jateng juga menuntut pengembalian uang. Sebelumnya, pihak koperasi berjanji akan mengembalikan uang nasabah pada pertengahan Juli tahun ini. Hal itu dikatakan Ketua Koordinator Paguyuban Nasabah Kopsim se-Soloraya Handono. “Kami meminta sesuai janji hari ini uang kami dikembalikan. Ternyata hanya janji-janji saja.”

Kopsim berdiri tahun 2003, berkantor pusat di Jalan Jatisari, Sidoarjo, Jawa Timur dengan Tri Budi Jatmika sebagai ketuanya. Koperasi ini berkembang pesat dengan kantor cabang berjumlah puluhan tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun, akhir 2008 Kopsim mulai goyang dan berlanjut hingga sekarang. Tri Budi Jatmika sendiri menghilang sejak koperasi itu nyaris karam.

Iming-Iming Bunga Simpanan Tinggi

Jumlah nasabah Kopsim saat ini disinyalir mencapai ratusan bahkan ribuan orang dengan omset ratusan miliar per tahun. Dana masyarakat di Kopsim wilayah Jawa Timur saja, yang macet mencapai Rp 300 miliar. Jumlah ini akan membengkak jika ditambah dengan dana macet di wilayah lain. 

Banyaknya masyarakat yang tertarik menyimpan di koperasi berjenis koperasi serba usaha ini tak lepas dari iming-iming tingginya bunga simpanan. Seperti Eko yang mengaku menyimpan karena bunganya tinggi. Atau Sulis, nasabah asal Desa Kranggan, Geger, Madiun. “Kami kecewa dan merasa ditipu. Memang, iming-iming bunganya cukup tinggi, 6 persen,” ujanya. Demikian juga Kamsiyatun (57) asal Magetan yang menabung Rp 20 juta. “Kami tergiur karena bunganya yang tinggi,” sesalnya.

Terkait bunga berbunga, WK menemukan laman di internet berisi seseorang mengaku sebagai financial advisor Kopsim yang mengiming-imingi bunga tinggi jika berinvestasi di Kopsim. Bahkan, di sebuah milis, ada promo investasi dari Kopsim (lihat box.)

(Dibox)

Dear Netter Yth,
Perkenankan kami dari Koperasi Sumber Insan Mandiri yang merupakan salah satu
koperasi serba usaha (KSU) dengan misi “Kegotong Royongan dan kerjasama saling
menguntungkan,menyampaikan penawaran program keanggotaan “Koperasi Sumber Insan
Mandiri” melalui program Anggota Luar Biasa maupun Program Penyertaan Modal.
Sebagai Badan Usaha yang sedang berkembang kami memiliki komitmen yang tinggi
terhadap pelayanan,kualitas serta menjunjung tinggi kepercayaan anggota sebagai
mitra bisnis.Adapun program yang kami tawarkan sebagai berikut :

1. Program Penyertaan Dana

2. Program simpanan Mandiri Berjangka
Simpanan Mandiri Berjangka

Program Simpanan Mandiri Berjangka adalah Program Simpanan Anggota Koperasi yang memberikan jasa sangat menguntungkan
KETENTUAN
1. Masa simpanan dapat dipilih mulai dari 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan

2. Simpanan anggota minimal Rp 1.000.000

Masa Simpanan Jasa Simpanan Per Bulan Akumulasi Jasa
12 bulan 3% 36%
6 bulan 2.5% 30%
3 bulan 2% 24%
Jumlah Simpanan (Rp) Masa Simpanan (Bulan) Penerimaan JasaPer Bulan (Rp) Penerimaan JasaPer Tahun (Rp)  
1.000.000 12 30.000    360.000  
    6 25.000    150.000  
    3 20.000      60.000  
             

Longgarnya Pengawasan

Salah satu pemicu penyalahgunaan simpanan anggota dan nonanggota di koperasi adalah longgarnya pengawasan. Hal itu ditegaskan Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Ir. Agus Muharram di televisi swasta nasional. “Badan pengawas seharusnya secara rutin melakukan pengawasan internal baik mingguan, bulanan,” tegasnya.

Menurut sumber lain, penyebab Kopsim gagal bayar antara lain pengawasan terhadap manajemen pusat kurang serta terlalu menargetkan uang masuk, lalai mengelolanya. Seperti diceritakan salah seorang manajemen Kopsim, selama ini uang masuk langsung disetor ke pusat. Dan dana yang masuk tersebut tidak disalurkan kembali dalam bentuk pinjaman. “Hanya ada beberapa cabang yang diperbolehkan menyalurkan pinjaman.”

Masih menurut sumber tersebut, awalnya Kopsim on the right track. “Tiap masyarakat yang menyimpan, langsung menjadi anggota koperasi. Jadi, tabungan atau deposito ybs sudah dikurangi untuk membayar simpanan pokok Rp 25 ribu dan simpanan wajib Rp 5 ribu perbulan,” jelasnya. Dari uang anggota yang masuk, koperasi memutarnya ke dalam usaha seperti peternakan sapi, pengolahan susu, dll. “Namanya juga manusia, mudah tergoda.”

Merespon permasalahan yang ada, dua orang pengurus Kopsim yang masih eksis yakni Samudra (Sekretaris) dan Pardji (Bendahara) mengaku telah memasang iklan tentang Tri Budi Jatmiko masuk daftar pencarian orang. Samudra juga berjanji akan berupaya menyelesaikan permasalahan terkait pembayaran simpanan. Termasuk meminta keluarga Tri Budi Jatmiko ikut mencari keberadaan Tri yang diduga membawa lari uang ratusan miliar.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Dinas Koperasi di Boyolali memperketat pengawasan koperasi. Demikian juga Kemenkop UKM yang berupaya menjadi mediator. Sayangnya, upaya itu hingga kini belum membuahkan hasil. “Saya belum menerima uang tabungan hingga sekarang (November 2010), dan tidak ada kabar dari koperasi. Di-sms juga tidak pernah dibalas, ditelepon nggak diangkat,” terang Widyatmoko.

 

Trauma Agus

Namanya Agus Widodo. Lelaki kelahiran 35 tahun silam lulusan Universitas Negeri di Jawa Tengah itu dulunya karyawan Kopsim Cabang Klaten dengan posisi sebagai marketing. Setahun lalu, sebelum kisruh melanda Kopsim, ia memutuskan resign. Ia mengaku memiliki beban mental terkait uang nasabah yang tidak bisa cair. “Ada satu nasabah yang beberapa bulan lagi jatuh tempo, uangnya tidak bisa cair.”

Hingga kini, Agus kerap ditanya soal Kopsim. “Sekarang, tiap ada yang bertanya soal koperasi, saya ketakutan, ada trauma.” Dari kasus Kopsim, Agus berharap masyarakat lebih hati-hati dalam menyimpan. “Tidak hanya di koperasi, tetapi juga di BMT atau arisan. Belakangan ini banyak kasus penipuan di daerah Mbak,” ujarnya kepada WK.

Tulisan ini dimuat di rubrik Nasional Majalah WK edisi 210/Nov 2010





Nasib Ritel Pangan Lokal: Menjadi ‘Tamu’ di Negeri Sendiri

10 10 2010

Kondisi ritel pangan lokal saat ini boleh dibilang di ujung tanduk. Selain harus bertahan di tengah serbuan produk impor, makanan warisan leluhur itu juga bertarung dengan perubahan selera lidah masyarakat yang gandrung makanan cepat saji, dan regulasi yang tidak mendukung. Keberpihakan pemerintah, masyarakat, dan stakeholder menjadi kunci penting keberlangsungan ritel pangan lokal.

Kekecewaan terilhat di raut Iwan, asisten manager sebuah perusahaan konsultan di Jakarta kala berlalu dari sebuah rumah makan di kota minyak di Kalimantan. Ia berharap bisa memanjakan lidahnya dengan suguhan masakan lokal. Sayangnya, hingga hari terakhir di kota itu, laki-laki berusia 30 tahunan itu tidak menemukan restoran bermenu lokal. “Rata-rata menu nasional dan junk food,” ujar pria berdarah Jawa yang lahir dan besar di Jakarta ini.

Lain cerita ketika ia ditugaskan di Makassar, Sulawesi Selatan. “Wah, saya puas banget mencoba berbagai makanan di daerah ini. Menu yang tak pernah ketinggalan adalah ikan,” katanya dengan mata berbinar. Sandiaga S. Uno, pengusaha nasional, ketika bertandang ke Semarang bertanya makanan apa yang harus dicoba di kota atlas itu lewat akun facebooknya. Jawaban yang muncul pun bisa ditebak. Mulai dari lumpia, wingko, soto Semarang, sate, ayam bakar, dll.

Setiap bertandang ke suatu daerah, kita akan terkaget-kaget dengan kuliner setempat yang beragam. Meski ada beberapa daerah yang miskin penganan lokal. Kadang kita menjumpai jenis makanan yang sama dengan daerah lain, tapi namanya beda. Misalnya masyarakat Jawa Tengah bagian utara menyebut makanan dari bahan ketan dengan isi kacang di dalamnya dengan nama dumbek. Sementara orang Sunda menamai kue basah itu dengan sebutan bacang.

Uniknya, sesama masyarakat Jawa kerap tidak sama menyebutkan satu jenis nama makanan. Contohnya kue nogosari yang terbuat dari tepung terigu dengan isi pisang.  Sebagian masyarakat pesisir Jawa menamainya ciklek.

Kendati kuliner lokal memiliki potensi besar untuk berkembang, keberadaannya kini mulai tergilas oleh makanan cepat saji yang berasal dari luar negeri. Melihat berlimpahnya pangan global baik fast food hingga bahan makanan jadi, menyebabkan makanan lokal kita tidak lagi menjadi tuan rumah, tetapi tamu di negeri sendiri.

Proteksi, Sosialisasi, dan Festival Kuliner

Serbuan pangan global telah merubah selera lidah sebagian masyarakat dari makanan tradisional ke sajian cepat saji atau fast food. Tengoklah ke resto-resto kota besar, sebagian besar menjajakan menu makanan asing. Malangnya, kelangkaan makanan tradisional tidak hanya melanda kampung beton. Di desa-desa pun kini sebagian makanan tradisional kini menghilang. Seperti kue puntir, walang-walang, rondo royal yang sangat sulit ditemui di daerahku, Lasem, Jawa Tengah.

Jika kesadaran masyarakat melestarikan pangan tradisional terus menipis, mungkin 15 tahun lagi generasi sekarang tidak mengenal thiwul, ongol-ongol, gethuk, grontol, carabikang, dll. Minimnya konsumsi pangan tradisional secara langsung juga berpengaruh pada budidaya sumber makanan lokal seperti singkong, ubi, jagung, dll. Jika permintaan jarang, maka petani kita akan enggan menanam.

Dr Murdijati Gardjit, ahli makanan tradisional dari Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) UGM Yogyakarta, di situs Gatra.com mengatakan bahwa penganan tradisional berbahan baku lokal lambat laun terancam punah, karena lemahnya sosialiasi dan proteksi pemerintah. “Dengan banyaknya bermunculan makanan modern atau cepat saji, makanan tradisional terancam punah jika tidak ada proteksi dan dimulai dari dapur kita sendiri,” jabarnya. Menjamurnya makanan cepat saji menyebabkan makanan tradisional berbahan baku lokal dilupakan, imbuhnya.

Mulai dari dapur sendiri, artinya setiap keluarga memasak sendiri makanan yang akan disajikan. Karena, kata Murdijati, salah satu faktor penyebab tepuruknya makanan tradisional adalah kebiasaan masyarakat sekarang yang memilih jalan pintas jajan di restoran atau warung makan ketimbang menyalakan api dapurnya sendiri.

.
Selain proteksi, kata Murdijati, perlu dilakukan sosialisasi. Semua elemen baik masyarakat, asosiasi jasa boga dan pemerintah harus ikut aktif mensosialisasikan makanan tradisional berbahan baku lokal, imbuhnya.

Salah satu contoh kegiatan sosialisasi yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan festival kuliner warisan leluhur. Dari lingkup paling kecil seperti RT, RW, kecamatan dan kabupaten menggelar kegiatan ini setahun sekali. Festival diisi dengan pameran makanan tradisional dan lomba memasak. Selain itu juga perlu diadakan lomba memakan bagi remaja dan anak-anak untuk mengenalkan kekayaan kuliner leluhur.

Peningkatan Mutu, Pengemasan, dan Inovasi

Kemasan menarik dan kesan modern menjadi salah satu daya tarik fast food. Agar masyarakat tertarik pada makanan tradisional, sebisa mungkin kemasan makanan tradisional dibuat eye catching. Kita bisa mencontoh produk makanan kecil di Cina yang dikemas dengan bungkus menarik.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mutu makanan. Kualitas makanan harus bagus dengan pemilihan bahan lokal berkualitas. Lebih baik jika dilengkapi dengan izin dari BPOM dan labe halal untuk menjamin keamanan dan menambah kepercayaan konsumen.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencuri hati konsumen adalah melakukan inovasi pangan. Kue tradisional seperti getuk yang semula hanya terbuat dari singkong bisa ditambah dengan keju sehingga melahirkan varian baru. Hal ini berlaku untuk penganan lain. Kita bisa memadukan bahan makanan lokal standar dengan produk pangan global.

Kampanye Hidup Sehat

Eksistensi makanan tradisional akan kembali berkibar jika kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat kian meningkat. Salah satu faktor pendukung gaya hidup sehat adalah pola makan. Banyaknya penyakit degeneratif yang menyerang masyarakat modern salah satunya disebabkan junk food atau makanan sampah yang kaya kolesterol dan minim gizi.

Murdijati seperti yang tertulis di Gatra.com menilai masyarakat sekarang lebih mengejar kenikmatan ketimbang manfaat yang terkandung dalam makanan. “Saat ini orang lebih cenderung berpikir instan dalam memilih makan sehingga kurang mempertimbangkan kandungan dan nilai gizi dalam makanan tersebut. Sehingga tidak heran saat ini banyak warga yang menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, koleseterol.”

Prof dr. Muhammad Sulchan, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di salah satu artikel di suarakarya-online.com juga mengungkapkan junk food menjadi salah satu pemicu penyakit kanker. “Globalisasi mendorong terjadinya perubahan radikal dalam sistem ritel pangan, yang ditandai dengan menjamurnya hypermarket, restoran cepat saji, waralaba, food court dari berbagai penjuru dunia yang sebagian besar menyajikan junk food atau makanan sampah dengan resiko terkena kanker sangat tinggi,” papar Sulchan. Proses pengolahan dan pematangan fast food beresiko menyebabkan kanker, imbuhnya.

Guna mengurangi kanker, Sulchan menyarankan agar masyarakat lebih banyak mengkonsumsi makanan lokal berbahan baku alami dan diolah secara tradisional.  Ia menambahkan mengkonsumsi tahu dan tempe dari kedelai lokal lebih sehat ketimbang kedelai impor.

Bersinergi atau Membatasi Ritel Modern?

Sejengkal kaki melangkah di jalanan ibukota, kita akan menemui ritel modern baik dari dalam negeri maupun asing. Entah itu minimarket ataupun area shopping mall. Sehingga, bisa dibilang sejauh mata memandang yang terlihat adalah deretan ritel moderen.

Ritel modern jumlahnya terus menggunung meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) No. 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta dan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 44 tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perpasaran Swasta di DKI Jakarta. Aturan ini menegaskan jarak minimal pasar tradisional dengan ritel modern sekitar 2,5 km.

Realitanya, kita kerap menemui tiadanya jarak antara ritel modern dengan pasar tradisional. Dan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, antara satu ritel modern dengan yang lain jaraknya hanya satu depa atau hanya dipisahkan oleh tembok.

Meski kondisi di lapangan berkata tidak ada zonasi, dan aturan hanya tinggal sebuah tulisan di atas kertas, seorang pejabat di  Pemprov DKI Jakarta seperti yang dimuat di mediacenterkopukm.com mengatakan zonasi tetap berlaku. Namun, buru-buru ia menambahkan, sepanjang barang yang diperjualbelikan berbeda tidak ada masalah.  Lemahnya pengawasan pemerintah member ruang gerak selebar-lebarnya bagi peritel asing.
“Aturannya sudah tepat, tapi yang masih lemah adalah pengawasan pelaksanaan peritel asing,” kata dia.

Dengan masifnya jumlah mereka, bisa dipastikan makanan tradisional pun menyurut. Pasalnya, sebagian besar content makanan yang dijual adalah produk pangan global. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, upaya yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana ritel-ritel itu memberi ruang bagi produk makanan tradisional kita. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Perindustrian berencana meningkatkan volume penyerapan pangan lokal skala industri kecil dan menengah pada ritel modern menjadi 25%. Hingga tahun 2009 penyerapan usaha ritel produk IKM pangan lokal ke area perbelanjaan modern baru sekitar 10%.

Tahun 2007 jumlah IKM pangan lokal yang memproduksi makanan tradisional sebanyak 140 ribu unit dengan konsentrasi terbesar di Pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan mencapai 340 ribu orang. Berdasarkan data Depperin seperti yang dimuat di situs kontan.co.id, jumlah IKM pangan pada 2008 tercatat 18.064 unit dengan tenaga kerja sebanyak 57.438 orang. Jika mengacu data terakhir (2008) berarti ada penurunan IKM secara kuantitas.

Namun, peningkatan daya serap tidak cukup tanpa membatasi keberadaan ritel modern. Bagaimana mungkin pangan lokal bisa berkembang jika ia hanya menjadi tamu di area ritel modern yang kini menjajah ruang perkotaan hingga perkampungan. Sudah saatnya pemerintah sungguh-sungguh memberikan nafas bagi ritel pangan lokal untuk menghidupkan makanan tradisional.

Waralaba Pangan Berbahan Lokal

Potensi makanan lokal yang besar namun belum tergali secara optimal bisa diselesaikan dengan mewaralabakan pangan lokal. Tentunya sebelum menjadi item waralaba dan business opportunity (BO), produk tsb telah dikenal dan digemari masyarakat. Sayangnya, beberapa tahun terakhir, dari sekian banyak waralaba pangan lokal berbahan lokal hanya sedikit yang mampu bertahan.

Tiga tahun lalu BO minuman teh kemasan sangat menjanjikan. Dengan modal kecil sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta sudah bisa membeli BO minuman teh kemasan. Omset yang diperoleh pun terhitung lumayan. Namun, seiring kian banyaknya pemain sejenis, maka omset bisnis minuman ini pun mulai menurun. Seorang teman yang memiliki satu booth minuman teh kemasan mengeluh. “Boomingnya hanya tiga tahun,” ujarnya.

Nasib serupa juga dialami BO lain seperti singkong keju yang laris manis bak kacang goreng sekitar dua tahun lalu. Lalu banyak orang bermain di bisnis ini. Hasilnya, kompetisi pun kian ketat. Bahkan, kini kita jarang menemui lagi singkong keju yang biasanya dijajakan di gerobakan.

Pelaku usaha yang akan mewaralabakan produknya seharusnya memiliki plan business, riset matang tentang pengembangan produk, SDM, dan pemasaran. Sehingga, umur usaha tidak sesingkat tanaman jagung. Mereka harus banyak belajar pada waralaba asing yang bisa menyebar produknya di seantero dunia. Meski ada beberapa waralaba makanan lokal yang masih eksis hingga sekarang, sayangnya mereka mengembangkan makanan asing dengan bahan baku impor. Sehingga, perkembangan usahanya tidak berpengaruh pada kemajuan pertanian kita.

Permodalan dan Perizinan

Salah satu kendala yang dihadapi sebagian besar pelaku industri pangan lokal adalah permodalan. Saat ini pemerintah mengeluarkan program KUR atau kredit usaha rakyat yang bertujuan membantu akses permodalan bagi pelaku IKM. Sayangnya, hanya sebagian dari pelaku UKM di bidang pangan yang di-cover modal perbankan. Selebihnya masih terjerat bunga panas rentenir.

Sejatinya pemerintah telah berupaya memperluas akses pembiayaan KUR dengan menggandeng Bank Pembangunan Daerah sebagai bank semula. Semula KUR hanya disaurkan enam bank nasional. Lagi-lagi kondisi di lapangan tidak semanis kesepakatan yang telah disetujui. Banyak dana KUR yang akhirnya hanya parkir.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam men-support pangan lokal adalah perizinan usaha. Sejumlah pelaku UKM di bidang pangan mengeluhkan lamanya proses perizinan di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan makanan). Hal tersebut sangat kontras dengan izin impor yang terbilang kilat.

Ketua Apindo Sofyan Wanandi seperti dikutip di bisnis Indonesia.com menegaskan jika pemerintah serius mendukung industri dalam negeri, proses perizinan di BPOM diharapkan dipermudah dan dipersingkat. “Kasihan industri kita ini, dipersulit, diputar-putar. Paling cepat 7 bulan mereka mengurus perizinan. Rata-rata di atas 1 tahun, bahkan ada yang 2 tahun.”

Sangat disayangkan dan menjadi kerugian besar bagi bangsa ini jika generasi mendatang hanya mengenal donat, fried chicken, burger, wafel, es krim, pancake, french fries, kebab, dll yang notabene merupakan produk asli luar dengan bahan baku impor. Sementara makanan tradisional berbahan baku lokal terlantar dan tidak dipedulikan.

Sudah menjadi keharusan ketika sebagian dari kita terbiasa mengkonsumsi makanan luar, pangan lokal pun juga dikenal di negeri orang. Bukan sebaliknya, pangan global menjajah kita, sementara pangan lokal mati secara pelan-pelan. Saya membayangkan penganan tradisional kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa go international dan diwaralabakan. Ah, akankah mimpi itu menjadi kenyataan? Atau hanya khayalan yang tetap menggantung di awan-awan. Pangan lokalku, ah nafas kehidupanku.

 Susan Sutardjo

 

 





Perlunya Peraturan Khusus KJK

1 10 2010

Koperasi jasa keuangan (KJK) selama ini beroperasi hanya berpedoman pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART)koperasi. Hal ini dikatakan Asisten Deputi Urusan Advokasi Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Setyo Heriyanto. Padahal, menurut dia, KJK sebagai lembaga keuangan seharusnya punya aturan main yang jelas.

“Lembaga keuangan seharusnya memiliki karakteristik kehati-hatian dan kesehatan agar dapat meningkatkan kepercayaan dan memberikan manfaat pada anggota dan masyarakat sekitar,” jelas Setyo. Sehingga, kata Setyo, KJK tidak cukup hanya berpedoman pada AD/ ART koperasi.

Ia juga menyayangkan banyaknya KJK yang hanya business oriented. “Masih banyak KJK yang saat ini cenderung berorientasi bisnis semata sehingga anggota maupun calon anggota hanya diposisikan sebagai mesin penghasil bunga saja,” kata Setyo.

Melihat kondisi yang ada, kata Setyo, diperlukan pengawasan dalam penyelenggaraan organisasi dan usaha Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Usaha Simpan Pinjam (USP) koperasi. Langkah tsb dimaksudkan agar koperasi memperhatikan prinsip kehati-hatian sekaligus menjaga kesehatan koperasi ybs.

Untuk itu, peraturan khusus bagi KJK saat ini terbilang urgent. Salah satu poin penting yang seharusnya ada dalam peraturan tersebut adalah aturan mengenai pengendalian dan pengawasan koperasi yang secara internal dilakukan oleh Badan Pengawas dan secara eksternal oleh pemerintah. “Peraturan khusus juga bisa meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan KJP dan USP koperasi,” ujarnya.

Peraturan khusus bagi KJK diharapkan dapat meningkatkan efektivitas tugas dan fungsi pengurus sebagai eksekutif yang menjalankan roda organisasi. Selain itu peraturan

khusus juga bisa mendorong terjadinya efisiensi biaya organisasi koperasi agar tercapai promosi. Sumber: Kompas

 Perlunya Peraturan Khusus KJK

Koperasi jasa keuangan (KJK) selama ini beroperasi hanya berpedoman pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART)koperasi. Hal ini dikatakan Asisten Deputi Urusan Advokasi Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Setyo Heriyanto. Padahal, menurut dia, KJK sebagai lembaga keuangan seharusnya punya aturan main yang jelas.

“Lembaga keuangan seharusnya memiliki karakteristik kehati-hatian dan kesehatan agar dapat meningkatkan kepercayaan dan memberikan manfaat pada anggota dan masyarakat sekitar,” jelas Setyo. Sehingga, kata Setyo, KJK tidak cukup hanya berpedoman pada AD/ ART koperasi.

Ia juga menyayangkan banyaknya KJK yang hanya business oriented. “Masih banyak KJK yang saat ini cenderung berorientasi bisnis semata sehingga anggota maupun calon anggota hanya diposisikan sebagai mesin penghasil bunga saja,” kata Setyo.

Melihat kondisi yang ada, kata Setyo, diperlukan pengawasan dalam penyelenggaraan organisasi dan usaha Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Usaha Simpan Pinjam (USP) koperasi. Langkah tsb dimaksudkan agar koperasi memperhatikan prinsip kehati-hatian sekaligus menjaga kesehatan koperasi ybs.

Untuk itu, peraturan khusus bagi KJK saat ini terbilang urgent. Salah satu poin penting yang seharusnya ada dalam peraturan tersebut adalah aturan mengenai pengendalian dan pengawasan koperasi yang secara internal dilakukan oleh Badan Pengawas dan secara eksternal oleh pemerintah. “Peraturan khusus juga bisa meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan KJP dan USP koperasi,” ujarnya.

Peraturan khusus bagi KJK diharapkan dapat meningkatkan efektivitas tugas dan fungsi pengurus sebagai eksekutif yang menjalankan roda organisasi. Selain itu peraturan

khusus juga bisa mendorong terjadinya efisiensi biaya organisasi koperasi agar tercapai promosi. Sumber: Kompas





Diskop UKM DKI Gelar Pasar Murah

1 10 2010

Akhir Juli lalu Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) DKI Jakarta menggelar pasar murah keempat di Kelurahan Kagungan, Tamansari, Jakbar. Kepala Dinas KUMKMP Reynalda Madjid mengungkapkan kegiatan pasar murah untuk menjamin kebutuhan masyarakat. Barang yang dijual antara lain seribu paket sembako berisi lima bungkus mi instan, kopi, teh, gula dan mentega dengan harga Rp 15.000 per paket. Item lain yakni 5.000 liter minyak goreng dengan harga Rp 7.500 per liter. Sumber: Republika

Balikpapan: 25 Persen Koperasi Tidak Aktif Jumlah koperasi di Balikpapan, Kalimantan saat ini telah mencapai 497 unit. Sayangnya, 70 hingga 75 persen diantaranya terbilang tidak aktif. Hal ini diungkap oleh Sekretaris Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Balikpapan Usman Gumanty, SE “Ada sekitar 25 persen koperasi yang tidak aktif,” kata Usman. Dikatakan Usman, ketidakmampuan mengelola usaha secara maksimal menjadi penyebab koperasi tidak aktif seperti minimnya modal usaha dan SDM pengelola koperasi. “Memang rata-rata kendala koperasi dalam mengembangkan usahanya karena modalnya yang minim. Selain itu SDM-nya belum memadai,” kata Usman. Sebagai solusinya, lanjut Usman, perlu adanya peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan. “Dalam pelatihan ini perlu dibahas tentang pengelolaan anggaran koperasi yang baik, manajemen karyawan serta pemasaran koperasi,” terang Usman. Langkah lain yang perlu dilakukan dalam mendongkrak jumlah koperasi aktif adalah peningkatan koordinasi antar lembaga terkait dalam membina koperasi. “Kami akui memang upaya pembinaan masih kurang. Banyaknya jumlah koperasi ini otomatis membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam melakukan pembinaan.” Meski demikian, Usman berjanji akan terus menata koperasi sesuai dengan program Disperindagkop. Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopinda) Kota Balikpapan Bachtiar mengatakan perlunya pembinaan yang maksimal dari instansi terkait serta dukungan modal dari pihak perbankkan untuk memajukan koperasi. “Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi koperasi dengan perbankkan untuk mempermudah akses permodalan,” ujarnya. Sumber:smecda.com

Malang: Jumlah Koperasi Tidak Aktif Naik Tahun ini jumlah koperasi tidak aktif di Malang,Jawa Timur meningkat dari 274 unit menjadi 324 unit. Atau sekitar 45,6 persen dari jumlah keseluruhan koperasi di Malang 710 unit. Hal ini dikatakan Asih Tri Rachmi dari Dinas Koperasi dan UKM Malang. “Setelah kita lakukan pendataan lagi, ada 50 koperasi lagi yang tidak sehat. Kami akan melakukan pembinaan agar koperasi bisa aktif kembali,” ujar Asih. Meski dinyatakan tidak aktif, Dinas tidak berencana membekukan atau mencoret koperasi ybs. Dinas hanya akan melakukan pembinaan agar koperasi bisa aktif kembali. Pembinaan itu berupa pelatihan pengembangan sumber daya manusia (SDM) hingga penguatan kelembagaan. Untuk mencegah bertambahnya jumlah koperasi tidak aktif, kata Asih, Dinas mengirim surat kepada setiap kecamatan dan kelurahan. Tujuannya, agar bisa memantau keberadaan koperasi di tiap wilayah. Salah satu indikasi koperasi tidak aktif adalah tidak adanya rapat anggota tahunan (RAT). Sehubungan dengan hal tsb Dinas akan melakukan revitalisasi secara bertahap. “Rencananya, tahap awal ada 25 koperasi yang direvitalisasi,” ujar Asih. Sumber:smecda.com





Meminimalisir Korban Jiwa dengan Melek Gempa

30 09 2010

Gempa tidak membunuh. Yang merenggut nyawa adalah material yang jatuh menimpa manusia karena goncangan gempa. Melek gempa menjadi upaya meminimalisir korban jiwa.

Muthia, salah seorang keponakanku yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar swasta sepulang sekolah bertanya soal gempa kepadaku. “Tante, kenapa kalau terjadi gempa bumi kita mesti sembunyi di kolong meja ya?”  “Agar tubuh kita terlindung dari reruntuhan, sayang,” jawabku. Muthia mengangguk. Ia kemudian cerita tanggap gempa yang diajarkan gurunya di sekolah.

Materi  tentang gempa dan hal-hal yang harus dilakukan sebagai upaya penyelamatan ketika bencana itu terjadi memang mutlak diajarkan di sekolah. Tidak hanya di skeolah, sebagian perkantoran di Jakarta saat ini juga kerap mengadakan simulasi penyelamatan karyawan kala gempa melanda. Sirine akan dibunyikan dan karyawan keluar gedung melalui tangga darurat jika berada di lantai bertingkat.

Sosialisasi tindakan tanggap gempa seharusnya juga gencar dilakukan kepada masyarakat. Entah itu melalui forum PKK, arisan, pengajian, ataupun media televisi. Pemerintah melalui perangkatnya hingga tingkat kelurahan bisa membuat program sadar gempa.

Mengapa melek gempa urgen bagi masyarakat kita? Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan gempa. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia menyebabkan Indonesia salah satu lahan subur gempa. Pasalnya, aktivitas tektonik akan aktif terus. Selain itu, rapuhnya batas kontinen juga ikut menyumbang terjadinya gempa. Wajar jika gempa menjadi bencana rutin yang memporak porandakan sebagian daerah di Indonesia.

Desember 2004 gempa dahsyat hampir 9 skala richter mengguncang sebagian Sumatera dengan tsunami mengiringinya. Kerusakan paling parah terjadi di Aceh dengan korban jiwa mencapai 283.106 orang. Disusul gempa di Nias, Kutacane, Aceh Tenggara, dan Bahorok Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. September 2009 gempa kembali mengoyak pulau Sumatera tepatnya Sumatera Barat.

Seringnya gempa melanda Sumatera disebabkan gerak patahan di sepanjang pulau dan pergeseran bertemunya lempeng Indo-Asia dan Eurasia. Gempa akan terus mengancam hingga gerakan patahan mencapai titik stabil.

Malangnya, tidak hanya Pulau Sumatera yang rawan gempa. Gempa pernah meratakan sebagian rumah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta, Tasikmalaya, dll. Menurut Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) sebagian besar wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan Papua rawan gempa. Penyebabnya tak lain adalah gerakan ketiga lempeng sekitar 3 hingga 4 cm tiap tahun.

Tindakan Saat Gempa

Dengan kondisi geografis rawan gempa maka setiap warga yang bermukim di daerah rawan gempa harus aware terhadap gempa. Artinya, tanggap apa yang harus dilakukan seperti tindakan preventif sebelum gempa dan saat gempa mengguncang daerahnya. Karena yang berbahaya dari bencana gempa adalah material rumah dan benda tajam lain yang rubuh akibat aktivitas gempa.

Sebelum Gempa: Tindakan Preventif

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan warga dan pemerintah sebagai upaya preventif pencegahan korban jiwa.

-Rumah Tahan Gempa

Masyarakat seyogyanya mendesain rumahnya tahan gempa. Kalau pun desain rumah tidak tahan gempa, sebisa mungkin material rumah tidak berbahaya. Misalnya tidak menggunakan genting beton yang beratnya lumayan untuk atap rumah atau perkantoran. Sebaiknya menggunakan material ringan sebagai atap rumah, perkantoran, dan pertokoan.

-Siapkan Sembako di Bawah Tanah

Saat gempa mengguncang, keberadaan sembako menjadi langka. Kita tidak bisa menggantungkan pada bantuan yang datang. Sebaiknya menyimpan sembako seperti mie instan dan beras di bunker atau bawah tanah dan diganti secara berkala. Mengapa di bawah tanah? Karena kalau disimpan seperti biasa kemungkinan besar sembako tertimbun karena tertimpa material bangunan.

-Simpan Air Mineral Galon

Komponen penting yang paling dibutuhkan saat gempa adalah ketersediaan air bersih. Karena biasanya jaringan listrik mati, bangunan runtuh, dan aktivitas transportasi kota lumpuh, maka air bersih menjadi langka. Simpan beberapa air mineral gallon di bawah tanah.

-Simpan Tenda, Sleeping Bag, Emergency Lamp, Lilin, Korek, dan Senter

Tenda diperlukan saat sebagian besar bangunan runtuh. Demikian juga senter dan emergency lamp atau lampu darurat sebagai alternative penerangan. Sleeping bag digunakan sebagai alas tidur.

-Kenali Lingkungan Rumah dan Kantor

            Dengan mengenali lingkungan rumah dan kantor secara baik, kita akan lebih mudah ke mana kita akan keluar menyelamatkan diri dan mencari pertolongan.

-Kenali Lokasi Pintu, Lift, dan Pintu Darurat dengan Baik.

Kita tidak perlu mencari-cari lokasi pintu darurat, lift, jika sudah tahu secara baik lokasinya. Selain itu, saat gempa terjadi orang mudah panik. Sehingga proses keluar dari bangunan akan lebih lama.

-Simpan Dokumen Penting di Tempat Aman

Ijasah, sertifikat, dan surat berharga lain sebisa mungkin ditaruh di satu tempat yang mudah dibawa jika terjadi bencana.

Mencermati Sinyal Alam

Tanda-tanda akan terjadinya gempa bumi antara lain adanya awan di langit yang memanjang seperti angin tornado atau pohon atau batang dengan posisi berdiri. Selain itu juga adanya medan elektromagnetik seperti lampu menyala redup padahal sedang dimatikan, suara televise tidak jelas, atau tulisan di fax yang kita terima terlihat berantakan. Sinyal alam yang lain seperti banyak hewan yang lari atau menghilang. Sebagian mereka juga mengeluarkan suara.

Tindakan yang Dilakukan Saat Gempa

Nah, apa saja tindakan yang harus dilakukan saat gempa mengguncang. Hal ini sangat tergantung pada posisi di mana kita berada ketika gempa melanda.

-Di Mobil

Kurangi kecepatan, menepi ke bahu jalan. Turun, keluar dari mobil, mencari tanah lapang untuk mengantisipasi dari kemungkinan kebakaran mobil dan tertimpa bangunan. Jangan berada di dekat pom bensin, atau di bawah jembatan penyeberangan.

-Di Pantai

Lari menjauhi pantai sebisa mungkin. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi jika terjadi tsunami.

-Di Pegunungan

Hindari daerah yang kemungkinan terjadi longsong seperti di bawah lereng dll.

-Di Kantor

Keluar bangunan dengan tenang dan tertib melalui tangga darurat. Kepanikan hanya akan membuat tangga penuh dan proses keluar akan terhambat. Jangan gunakan lift atau tangga berjalan untuk menghindari listrik mati saat berada di dalam lift. Jika tidak memungkinkan keluar, bersembunyi di bawah meja untuk melindungi badan dari benda-benda tajam seperti kaca dan tembok yang runtuh.

-Di Pertokoan

Jika suasana panic dan semua orang berebut keluar, sebisa mungkin lindungi kepala dengan tas atau keranjang. Jauhi barang yang bertumpuk dan mudah tergelincir.

-Di Lantai Basement

Jangan panik, berjalan tenang ke arah tembok dengan kepala menunduk dan ditutupi tas hingga mencapai pintu keluar.

-Di Rumah

Matikan kompor jika sedang memasak. Keluar rumah dengan merangkak dan mencari tanah lapang guna menghindari keruntuhan material bangunan. Merangkak diperlukan karena kalau berjalan biasa akan jatuh karena terjadi bangunan. Ini bisa dilakukan jika jarak kita dengan pintu kurang dari 12 meter. Namun, jika jarak kita dengan pintu lebih dari 12 meter, lebih aman sembunyi di bawah meja atau kolong kasur untuk menyelamatkan diri dari bangunan rumah yang roboh.

-Di Jalan

Jauhi bangunan tinggi, papan reklame, tiang listrik, pohon yang kemungkinan akan roboh karena gempa. Waspada juga pada kondisi jalan, apakah merekah atau tidak.

-Di Kereta Api

Tetap tenang, jangan panik sambil melindungi kepala dengan tas menuju pintu keluar. Jauhi tiang kereta. Ada kemungkinan kereta akan berhenti karena aliran listrik mati. Tetap tenang berjalan ke pintu keluar.

-Mencari Informasi

Kepanikan kerap membuat seseorang melakukan tindakan yang salah. Untuk itu dipelrukan informasi yang memberikan panduan langkah penyelamatan.

-Berdoa

Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan upaya dan bentuk kepasrahan manusia dalam mendapatkan keselataman dari Sang pemilik alam.





Artikel mengenai bencana alam dan cara menghadapi bencana al

30 09 2010

Artikel mengenai bencana alam dan cara menghadapi bencana al.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.